PHE Disebut NOC dengan Ekspansi Eksplorasi Terluas di Dunia, Ini Strategi Jaga Ketahanan Energi
PHE terus memperkuat eksplorasi migas untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah penurunan produksi alamiah. Sepanjang 2023-2026 PHE memperoleh delapan wilayah kerja eksplorasi baru di Indonesia dan satu di Malaysia, serta tercatat sebagai NOC dengan penambahan luas area eksplorasi terbesar di dunia lebih dari 90 ribu kilometer persegi berdasarkan data S&P Global 2026.
Upaya menjaga ketahanan energi nasional tidak bisa dilepaskan dari kegiatan eksplorasi migas yang masif dan berkelanjutan. Eksplorasi menjadi strategi kunci untuk menemukan cadangan baru, menjaga keberlanjutan pasokan energi, sekaligus mendukung target peningkatan produksi minyak dan gas bumi nasional.
Komisaris Independen PT Pertamina (Persero) Raden Adjeng Sondaryani dalam acara Policy Series bertema "Darurat Eksplorasi, Mutlaknya Kolaborasi Mendukung Ketahanan Energi Nasional" di Jakarta, Rabu (14/10), menekankan perlunya terobosan untuk meningkatkan volume cadangan migas. Terobosan itu antara lain eksplorasi di area frontier maupun deep water, serta penemuan potensi cadangan migas raksasa atau giant fields yang baru.
Senada dengan itu, Koordinator Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional Satya Widya Yudha menyoroti pentingnya peningkatan eksplorasi, penemuan cadangan baru, dan optimalisasi produksi minyak bumi. Menurutnya, percepatan eksplorasi, pengembangan lapangan gas baru, dan penguatan infrastruktur juga dibutuhkan untuk menjaga ketahanan pasokan gas nasional.
Di tingkat perusahaan, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) sebagai bagian dari PT Pertamina (Persero) terus memperkuat strategi menjaga produksi migas di tengah penurunan alamiah pada wilayah kerja eksisting. PHE memperluas portofolio eksplorasi melalui akuisisi wilayah kerja baru dan kerja sama dengan mitra strategis.
Direktur Eksplorasi PHE Asep Samsul Arifin menyatakan langkah tersebut untuk mengantisipasi penurunan produksi alamiah sekaligus membuka peluang penemuan sumber daya migas baru. Menurutnya, eksplorasi merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan industri hulu migas. "Melalui perluasan wilayah kerja, penguatan kolaborasi dengan mitra global, serta penerapan teknologi eksplorasi yang semakin maju, kami terus membangun portofolio yang berkualitas untuk meningkatkan peluang penemuan sumber daya migas baru," kata Asep.
Dalam lima tahun terakhir, PHE memperluas wilayah operasi melalui akuisisi wilayah kerja baru dan pelaksanaan joint study bersama sejumlah perusahaan energi internasional. Hingga Juli 2026, PHE memiliki 12 joint study, dengan 10 studi masih berjalan, satu studi selesai, dan satu studi menunggu persetujuan pemerintah. Sepanjang 2023-2026, PHE memperoleh delapan wilayah kerja eksplorasi baru di Indonesia, yakni Bunga, Peri Mahakam, East Natuna, Melati, Binaiya, Lavender, Bobara, dan North Ketapang, serta satu wilayah kerja eksplorasi di Malaysia, Blok SK-510.
Berdasarkan data S&P Global 2026 untuk periode 2021-2025, PHE tercatat sebagai National Oil Company (NOC) dengan penambahan luas area eksplorasi baru terbesar di dunia, mencapai lebih dari 90 ribu kilometer persegi. Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi menilai PHE sudah melakukan cukup banyak upaya, mulai dari penggunaan teknologi hingga eksplorasi di sumur-sumur tua. Ia mendorong pengeboran dan eksplorasi di wilayah yang masih berpotensi, meski membutuhkan investasi besar.
Pengamat Ekonomi Energi Universitas Padjadjaran Yayan Satyakti menilai langkah Pertamina terkait produksi sudah tepat arah. Di tengah tantangan laju penurunan alamiah sumur minyak 24 persen, Pertamina dinilai masih mampu mempertahankan produksi minyaknya berkat eksplorasi baru. Contohnya dua sumur pengembangan lepas pantai di Lapangan Sejadi, Kalimantan Timur, yang menambah 1.865 bph, serta 27 sumur pengembangan di lapangan tua PHR Zona 4 yang menambah 1.549 bph. Dengan asumsi rata-rata 57 bph per sumur, dibutuhkan ratusan sumur pengembangan baru untuk mengompensasi tren penurunan alamiah, seperti skala 887 sumur yang dikerjakan PHE pada 2025.
Corporate Secretary PHE Hermansyah Y Nasroen menyatakan perusahaan terus menjalankan berbagai strategi untuk meningkatkan produktivitas lapangan dan menjaga produksi. Saat ini PHE berkontribusi 65 persen terhadap produksi minyak nasional dan 35 persen terhadap produksi gas nasional, serta mengoperasikan 27 persen blok migas di Indonesia. Sepanjang 2025, PHE mencatatkan produksi migas 1,032 juta barel setara minyak per hari, terdiri atas 556 ribu barel minyak per hari dan 2.757 juta kaki kubik gas per hari, didukung pemboran eksploitasi 887 sumur, workover 1.288 sumur, dan well service 37.266 sumur.
Di bidang eksplorasi, PHE melakukan pemboran 20 sumur eksplorasi, survei seismik 2D sepanjang 2.931 kilometer, dan survei seismik 3D seluas 855 kilometer persegi. Kegiatan itu menghasilkan penemuan sumber daya kontingen (2C) sebesar 1.097,43 juta barel setara minyak, dengan kontribusi utama dari temuan migas nonkonvensional di Wilayah Kerja Rokan sebesar 724,22 juta barel minyak. PHE juga membukukan tambahan cadangan terbukti (P1) 314 MMBOE melalui merger dan akuisisi, termasuk aset di Aljazair melalui proyek MLN Phase 5 di Blok 405a. Pada 2026, PHE melanjutkan sejumlah program strategis, mulai dari pengembangan lapangan baru, rejuvenasi aset, penerapan EOR, hingga eksplorasi laut dalam di Natuna Timur dan proyek CCS.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)