OJK Tanggapi Tudingan Eks Mendag Lutfi soal Singapura dan MSCI: Kami Pilih Fokus Kerja

OJK menanggapi tudingan eks Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang menyebut Singapura memanfaatkan MSCI untuk menekan pasar saham Indonesia. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi memilih fokus bekerja dan menegaskan reformasi pasar modal serta penegakan hukum sudah berjalan sejak Januari, sebelum isu MSCI muncul.

Oct 20, 2026 - 20:02
Updated: 12 hours ago
0
OJK Tanggapi Tudingan Eks Mendag Lutfi soal Singapura dan MSCI: Kami Pilih Fokus Kerja
OJK Tanggapi Tudingan Eks Mendag Lutfi soal Singapura dan MSCI: Kami Pilih Fokus Kerja

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akhirnya angkat bicara menanggapi pernyataan eks Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi yang menuding Singapura memanfaatkan Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk menekan pasar saham Indonesia. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan pihaknya memilih berkonsentrasi pada pekerjaan ketimbang menanggapi spekulasi yang berkembang di publik.

"Kita kerja saja. Silakan orang lain mengomentari, silakan orang berpikir sendiri, tapi kita kerja saja," ujar Friderica saat ditemui usai acara Ijtima' Sanawi di Grand Mercure Harmoni, Jakarta Pusat, Selasa (20/10).

Friderica menegaskan OJK telah bekerja maksimal dalam menjalankan reformasi pasar modal. Menurutnya, langkah penegakan hukum dan pembenahan regulasi sudah dilakukan secara masif sejak Januari lalu, jauh sebelum isu sentimen MSCI mencuat ke permukaan.

"Jadi kalau dibilang kita enggak ngapa-ngapain tuh, itu salah banget lah. Bahkan kalau kita tuh udah all out banget dengan segala hal yang kita lakukan," tegasnya.

Tudingan yang dimaksud berasal dari Muhammad Lutfi, eks Mendag yang menjabat pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (14 Februari-20 Oktober 2014) dan era Presiden Joko Widodo (23 Desember 2020-15 Juni 2022). Melalui unggahan di akun Instagram resminya @m.lutfi pada Senin (19/10), ia menduga Singapura berupaya menjatuhkan harga saham di pasar modal Indonesia agar investor asing bisa memborong saham RI dengan harga murah.

Menurut Lutfi, tekanan tersebut dilakukan lewat ancaman penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market). Ia menyoroti peran institusi raksasa Singapura seperti Temasek dan GIC yang dinilainya memiliki pengaruh besar di MSCI.

"Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia?" kata Lutfi dalam unggahannya.

Lutfi bahkan mengaku mendapat informasi bahwa seorang petinggi GIC bernama Rachel Goh ikut menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. "Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujarnya.

Namun, Lutfi tidak menyertakan bukti pendukung atas tuduhan tersebut. Klaim mengenai keterlibatan Singapura, Temasek, GIC, maupun sosok yang disebutnya itu belum terverifikasi secara independen. Lutfi menduga tekanan tersebut berkaitan dengan kepentingan investor asing yang ingin kembali membeli saham dengan harga lebih rendah, dan mengeklaim dana institusi asing telah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia tanpa membuat harga saham anjlok sesuai harapan mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User