Misteri Kematian Peneliti Wabah Rusia: Pecahkan Tabung Bakteri Pes, 200 Orang Diawasi
Darya Shipilova, staf laboratorium anti-wabah di Irkutsk, Rusia, meninggal setelah diduga memecahkan tabung berisi bakteri pes Yersinia pestis. Insiden ini memicu karantina satu rumah sakit dan pengawasan terhadap hampir 200 orang. WHO meminta Rusia transparan, sementara Trump berencana menelepon Putin untuk membahas kasus ini.
Seorang peneliti perempuan berusia 28 tahun di laboratorium anti-wabah Irkutsk, Rusia, Darya Shipilova, meninggal dunia pekan lalu setelah terinfeksi penyakit misterius yang diduga kuat adalah wabah pes. Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan Shipilova meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui secara pasti.
Namun, sejumlah media Rusia melaporkan bahwa Shipilova terjangkit wabah pes akibat kecelakaan laboratorium. Laporan awal menyebutkan ia memecahkan tabung reaksi yang berisi bakteri Yersinia pestis pada akhir September. Setelah kejadian itu, ia mengalami pneumonia berat dan menghembuskan napas terakhir pada 2 Oktober. Pihak berwenang Rusia membantah adanya kecelakaan di laboratorium tersebut.
Menurut laporan media, setidaknya satu fasilitas rumah sakit tempat Shipilova dirawat kini dikarantina. Hampir 200 orang yang memiliki kontak dekat dengan korban juga dilaporkan berada di bawah pengawasan medis sebagai langkah pencegahan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengaku telah diberi tahu oleh Rusia pada 6 Oktober bahwa tidak ada wabah yang terdeteksi. Meski demikian, WHO meminta pihak berwenang Kremlin memberikan informasi mengenai patogen apa yang menyebabkan penyakit Shipilova. Direktur WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada Selasa (6/10) menyerukan Rusia untuk bersikap transparan. "Berbagi informasi yang tepat waktu, lengkap, dan transparan berdasarkan Peraturan Kesehatan Internasional sangat penting untuk mengklarifikasi laporan yang saling bertentangan dan memungkinkan penilaian akurat terhadap potensi risiko kesehatan masyarakat," tulisnya di media sosial X.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan akan segera menelepon Presiden Rusia, Vladimir Putin, untuk membahas kematian Shipilova. Pernyataan ini muncul setelah Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, mendesak Rusia untuk terbuka mengenai situasi tersebut. "Saya sudah menjadwalkan panggilan telepon," kata Trump di Gedung Putih.
Wabah pes sendiri disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Penyakit ini memiliki tiga jenis utama: bubonik, septikemik, dan pneumonik. Pes bubonik adalah bentuk paling umum, ditandai dengan pembengkakan kelenjar getah bening yang menyakitkan atau bubo, disertai demam, menggigil, sakit kepala hebat, nyeri badan, dan kelelahan. Pes septikemia terjadi ketika bakteri masuk ke aliran darah, menyebabkan demam, menggigil, kelemahan ekstrem, nyeri perut, syok, dan kemungkinan pendarahan internal. Sementara pes pneumonik menyerang paru-paru dan dapat menyebabkan gagal napas, serta dianggap sebagai bentuk paling serius yang selalu fatal jika tidak segera diobati.
Penularan wabah pes umumnya melalui gigitan kutu yang dibawa hewan pengerat terinfeksi. Hewan seperti kucing dan anjing juga dapat terinfeksi setelah memakan hewan kecil pembawa kutu. Pes paru dapat menular antar manusia melalui tetesan air liur saat batuk. Meskipun demikian, wabah pes dapat diobati dengan antibiotik jika ditangani sejak dini. Para peneliti yang bekerja dengan penyakit ini juga dapat menerima vaksinasi.
Sejarah mencatat wabah pes pada Abad Pertengahan menewaskan jutaan orang akibat infestasi kutu dan tikus yang meluas serta kurangnya pemahaman tentang pencegahan. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, sekitar tujuh kasus wabah dilaporkan setiap tahun di AS, dengan lebih dari 80 persen merupakan pes bubonik. Sebagian besar kasus terjadi di wilayah Barat dan Barat Daya, dan umumnya berhasil diobati. Kasus kematian terakhir akibat wabah pes di AS tercatat pada tahun 2021.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)