Longsor di Himalaya Picu Banjir Bandang Nepal, Tercatat sebagai Gempa M5,2
Banjir bandang di Nepal menewaskan lebih dari 150 orang dan 384 lainnya hilang. Pakar geofisika Goran Ekstrom menyebut peristiwa ini berawal dari longsor di celah Pegunungan Himalaya yang meluruhkan gletser dan tercatat sebagai gempa magnitudo 5,2. Perubahan iklim diduga turut memperparah kejadian tersebut.
Bencana banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah Nepal sejak Rabu (26/8) menimbulkan dampak besar. Lebih dari 150 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 384 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Pihak berwenang setempat mencatat sedikitnya 157 orang tewas dan 75 orang mengalami luka-luka hingga Rabu malam.
Para ahli geofisika menelusuri penyebab banjir tersebut hingga ke kawasan Pegunungan Himalaya. Pakar geofisika dari Earth Observatory di Universitas Columbia, Goran Ekstrom, menyatakan bahwa sebuah peristiwa geofisika berskala masif terjadi di pegunungan itu dan memicu banjir besar.
Menurut Ekstrom, tanah longsor terjadi di sebuah celah pegunungan pada siang hari. Longsor tersebut meluruhkan gletser besar, atau sebagian dari gletser di Himalaya. Peristiwa itu begitu dahsyat hingga tercatat sebagai gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 pada seismograf di seluruh dunia.
Ekstrom menjelaskan bahwa bebatuan besar meluncur turun dari pegunungan dan menghasilkan energi yang luar biasa besar. Energi tersebut memicu peningkatan suhu yang kemudian mencairkan gletser. Hal inilah yang kemungkinan menjadi penyebab besarnya volume air yang mengalir sangat deras hingga ke kaki gunung.
Peristiwa serupa sebenarnya pernah terjadi sebelumnya di Himalaya. Namun, menurut Ekstrom, kejadian kali ini tergolong sebagai peristiwa geofisika berskala masif yang menyebabkan banjir bandang sangat mematikan. Ia memperkirakan ketinggian air banjir luar biasa tinggi akibat campuran es, material rerobohan, dan air yang meluncur cepat ke lembah.
Ketinggian air diperkirakan mencapai 130 hingga 160 kaki atau sekitar 39 hingga 48 meter. Sementara itu, kecepatan aliran air mungkin mencapai 44 mil per jam. Angka-angka tersebut menunjukkan betapa besar daya rusak yang ditimbulkan oleh banjir bandang ini.
Ekstrom juga menyoroti kaitan antara peristiwa ini dengan perubahan iklim. Menurutnya, perubahan iklim mempercepat pencairan es dan gletser di seluruh dunia. Meski peristiwa semacam ini bisa saja terjadi tanpa perubahan iklim, ia menilai ada kemungkinan perubahan iklim memperparah kejadian tersebut.
"Secara umum, tanah longsor di wilayah pegunungan ini semakin sering terjadi, hal ini telah dipastikan, dan kejadian tersebut berkaitan dengan mencairnya gletser," ujar Ekstrom. Pernyataan itu menegaskan bahwa fenomena longsor di kawasan pegunungan memiliki keterkaitan dengan kondisi gletser yang terus menyusut.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0