Harga Telur di Bawah HAP, Titiek Soeharto Siap Adukan Nasib Peternak ke Prabowo
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto berjanji menyampaikan keluhan peternak ayam petelur soal harga telur yang anjlok ke Presiden Prabowo Subianto. Harga telur di tingkat peternak hanya Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg, jauh di bawah HAP Rp26.500 per kg, sementara harga jagung sebagai pakan terus melonjak hingga Rp8.400 per kg di Lampung.
Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto menegaskan akan memperjuangkan nasib peternak ayam petelur yang terpuruk akibat harga telur anjlok. Ia berjanji membawa keluhan tersebut langsung kepada Presiden Prabowo Subianto serta mendesak kementerian terkait mencari solusi penyerapan telur dan stabilisasi harga jagung.
"Ini sudah kami tampung, nanti kami akan perjuangkan di kementerian, dan insya Allah sampaikan ke Pak Presiden (Prabowo) ini. Karena beliau ingin swasembada telur, swasembada segala macam, swasembada telur, daging, jagung dan sebagainya," ujar Titiek dalam Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Pinsar Petelur Nasional (PPN) di Jakarta, Rabu (7/10).
Menurut Titiek, swasembada telur tidak cukup hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan konsumsi. Keberhasilan program itu juga harus dilihat dari kondisi harga yang memungkinkan peternak tetap menjalankan usaha dan hidup sejahtera. Ia menekankan pentingnya penyerapan produksi telur melalui program pemerintah agar komoditas tidak terbuang saat harga di tingkat peternak jatuh.
"Kita harus buat peternaknya juga sejahtera. Ini akan kami sampaikan terutama harganya yang anjlok ini supaya bisa diserap oleh program-program pemerintah, ya. Jadi tidak terus mubazir," kata Titiek.
Selain soal telur, Titiek menyoroti lonjakan harga jagung yang menjadi pakan utama peternak. Ia berencana berkoordinasi dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan meminta Bulog ikut menangani persoalan tersebut. Menurutnya, jika masalah ini sampai ke Presiden, pembahasan bisa dilanjutkan melalui rapat terbatas bersama kementerian dan lembaga terkait.
Keluhan peternak disampaikan Pengurus PPN Suwardi dalam rapat yang sama. Ia mengungkapkan harga telur di tingkat peternak sejak April hingga kini berada jauh di bawah harga acuan pembelian (HAP) sesuai Peraturan Bapanas Nomor 6 Tahun 2024 sebesar Rp26.500 per kilogram. Harga rata-rata hanya berkisar Rp19 ribu-Rp20 ribu per kg, bahkan pada Juni sempat menyentuh Rp17.100 per kg.
Dalam enam bulan terakhir, harga telur rata-rata sekitar Rp20 ribu-Rp21 ribu per kg, sementara biaya produksi terutama pakan terus meningkat. Kondisi ini membuat peternak diperkirakan merugi Rp5.000-Rp7.000 per kg setiap hari. Suwardi juga menyebut harga jagung di Lampung telah mencapai Rp8.400 per kg dan di Nusa Tenggara Barat sekitar Rp7.700 per kg.
"Hari ini kami butuh jagung. Ayam kami sudah tidak bisa makan, karena ketersediaan berkurang, harganya terus melambung," ujar Suwardi. Ia meminta pemerintah menyediakan jagung dengan harga terjangkau, bukan gratis, agar peternak bisa bertahan.
Seorang peternak perempuan dari Kabupaten Blitar yang hadir dalam pertemuan itu menangis saat menceritakan kondisi usahanya. Ia mengaku pasokan jagung dari Bulog masih tersendat dan pertemuan dengan Komisi IV menjadi salah satu upaya terakhir untuk meminta bantuan. Suwardi menambahkan, sebagian kandang peternak sudah kosong karena mereka tidak sanggup membeli pakan.
Suwardi memperkirakan peternak ayam petelur membutuhkan sekitar 223 ribu ton jagung hingga Februari mendatang, terutama dengan ancaman kemarau panjang dan El Nino. Kebutuhan itu lebih tinggi dibanding pasokan yang tersedia. Pemerintah sebelumnya menyetujui alokasi 150 ribu ton hingga Desember untuk 7.612 peternak, namun Suwardi menyebut dari penugasan awal 500 ribu ton untuk SPHP, izin yang diberikan hanya 250 ribu ton dan sisa stok di Bulog diperkirakan tinggal sekitar 30 ribu ton.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)