Dana Rp1,1 Triliun Dinilai Tak Cukup, Program Makan Bergizi Ala Trump di Sekolah AS Terhambat
Program peningkatan makanan bergizi gratis di sekolah AS yang didorong pemerintahan Trump menghadapi kendala besar. Banyak sekolah kekurangan dapur, peralatan, tenaga kerja, dan anggaran untuk menyajikan makanan segar. Hibah peralatan USDA senilai US$70 juta dinilai jauh dari cukup, sementara biaya makan siang melebihi penggantian federal. Sejumlah distrik mulai berhasil, tetapi tantangan tetap membayangi.
Upaya pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meningkatkan kualitas makanan bergizi gratis di sekolah-sekolah mulai menemui jalan terjal. Sejumlah sekolah di AS kesulitan menyajikan lebih banyak makanan segar akibat keterbatasan dapur, peralatan, tenaga kerja, dan anggaran.
Gambaran itu terlihat di Sekolah Dasar Thomas Hooker, Connecticut. Pada Senin (28/9) pagi, tiga staf kantin menyiapkan makan siang untuk sekitar 300 siswa. Mereka mengeluarkan nugget ayam popcorn beku dari kemasan, melumurinya dengan saus jeruk, lalu memasukkannya ke oven penghangat. Menu itu disajikan bersama nasi merah dan buncis segar. Ada pula patty hamburger siap saji dengan keju, wortel mini, irisan mentimun, tomat ceri, apel, jeruk, dan pilihan buah kalengan.
Namun, bangunan sekolah yang berdiri sejak 1960-an itu tidak memiliki dapur karena saat itu banyak siswa pulang ke rumah untuk makan siang. Sekolah Umum Meriden kemudian mengubah tiga lemari menjadi fasilitas dapur. Meja manajer kafetaria hanya berjarak beberapa meter dari wastafel pencuci panci yang berada di ruangan berbeda dengan kompor, kulkas, dan peralatan lainnya. Direktur layanan makanan dan nutrisi Meriden, Susan Maffe, mengakui kondisi tersebut membuat proses menyiapkan makanan dari bahan segar menjadi sangat sulit. "Kondisi ini jelas sangat menantang," kata Maffe.
Kebijakan yang menjadi bagian dari gerakan Make America Healthy Again itu didorong Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Robert F. Kennedy Jr. Ia menekankan perlunya memperluas masakan rumahan, mengurangi tambahan gula dan makanan ultra-olahan, serta menyajikan lebih banyak hasil bumi segar, biji-bijian utuh, dan protein berkualitas tinggi. Kennedy juga menyoroti kebutuhan sekolah akan dapur yang lebih baik, peralatan, pelatihan, dan model praktis untuk memasak dari awal.
Untuk mendukung perubahan tersebut, Menteri Pertanian AS Brooke Rollins mengumumkan hibah peralatan senilai US$70 juta atau sekitar Rp1,1 triliun. Pemerintah juga menyiapkan US$30 juta atau sekitar Rp470 miliar untuk penelitian mengenai cara menyediakan makanan sekolah yang lebih sehat dengan biaya efisien. Namun, pengelola layanan makanan sekolah menilai dana itu masih jauh dari cukup. Ketua School Nutrition Foundation Gay Anderson mengatakan US$70 juta harus dibagi ke sekolah di 50 negara bagian. "Uang sebesar US$70 juta tidak akan cukup untuk menjangkau 50 negara bagian," ujarnya.
Meriden sendiri menghabiskan lebih dari US$300 ribu untuk membeli dan memperbaiki peralatan tahun lalu, sementara Connecticut pada tahap awal hibah hanya mendapat US$209 ribu untuk seluruh negara bagian. Survei School Nutrition Association menunjukkan hanya sekitar 16 persen distrik sekolah di AS yang setiap hari menyajikan makanan yang dibuat sendiri. Sekitar 71 persen distrik menyajikannya setidaknya sekali sepekan. Lebih dari 93 persen distrik mengaku membutuhkan tambahan staf, pelatihan memasak, peralatan, dan infrastruktur untuk mengurangi ketergantungan pada makanan ultra-olahan.
Kekurangan tenaga kerja turut memperparah situasi. Banyak distrik tidak memiliki cukup pekerja kantin penuh waktu karena sebagian memilih bekerja di sektor ritel atau gudang yang menawarkan penghasilan lebih tinggi. Akibatnya, tingkat pergantian pekerja di kantin sekolah cukup tinggi. Memasak dari awal juga menuntut keterampilan tambahan, seperti menangani daging mentah, mengikuti resep dan standar nutrisi, serta menggunakan peralatan seperti pisau dan alat pengukus dengan aman.
Masalah pembiayaan menjadi kendala lain. Meriden menghabiskan sekitar US$5,07 untuk setiap makan siang tahun lalu, mencakup US$2,44 untuk tenaga kerja, US$2,04 untuk makanan, dan sekitar US$0,20 untuk peralatan. Namun, penggantian biaya dari pemerintah federal hanya sekitar US$4,80 per makanan. Maffe memperkirakan kondisi itu akan menciptakan defisit sekitar US$250 ribu. Untuk menutupnya, sekolah menjual makanan ringan dan minuman sehat, menyediakan katering untuk kegiatan distrik, serta menggunakan sejumlah dana dari pemerintah negara bagian. Maffe pun khawatir dengan standar nutrisi baru Kementerian Pertanian AS yang akan segera diterapkan. "Saya tidak tahu bagaimana saya akan melakukannya. Sungguh," katanya.
Kementerian Pertanian AS menyatakan tingkat penggantian biaya makanan ditetapkan oleh Kongres dan pemerintah telah memberikan hibah untuk mendukung pembelian peralatan sekolah selama hampir 20 tahun. "Membangun Kesehatan Amerika Kembali dimulai dari ruang kelas, dan USDA sangat antusias untuk turut berperan," kata juru bicara lembaga itu. Meski demikian, sejumlah distrik mulai menunjukkan kemajuan. Littleton Public Schools di Colorado membuka dapur produksi pusat senilai US$4 juta pada musim gugur tahun lalu, dengan tiga koki yang menyiapkan berbagai makanan segar untuk 21 sekolah. Sebelum dapur pusat dibangun, hanya sekitar seperempat menu makan siang yang dibuat menggunakan bahan segar, dan setelah beroperasi porsinya meningkat lebih dari dua kali lipat. Namun, Direktur layanan gizi Littleton, Jessica Gould, mengakui tantangan baru muncul karena sejumlah siswa sudah terbiasa dengan makanan olahan. "Beberapa anak terbiasa dengan makaroni dan keju Kraft. Kami mencoba membuat lompatan besar di sini. Membuat selera mereka mengikuti perubahan ini akan menjadi tantangan kami selanjutnya," ujarnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)