Bukan Sekadar Bercanda, Psikolog UNP Ungkap Alasan Korban Bullying Sering Memilih Diam
Psikolog Universitas Negeri Padang, Wirza Feny Rahayu, menjelaskan bahwa korban bullying sering diam karena mengalami learned helplessness, yaitu rasa tidak berdaya yang dipelajari. Ia menekankan pentingnya respon orang tua dan guru yang tepat, serta menjadikan rumah dan sekolah sebagai ruang aman bagi anak.
Psikolog Universitas Negeri Padang (UNP), Wirza Feny Rahayu, mengungkapkan bahwa banyak korban perundungan atau bullying memilih untuk diam karena mengalami kondisi yang disebut learned helplessness, yaitu perasaan tidak berdaya yang terbentuk dari pengalaman berulang. Hal ini disampaikannya dalam program Talkshow "Peta Isu" Info Sumbar pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Dalam diskusi bertema "Bullying di Sekolah, Candaan Berlebihan atau Kegagalan Sistem Perlindungan Siswa?", Wirza menjelaskan tiga aspek utama yang menjadi ciri tindakan bullying. Pertama, adanya tujuan untuk menyakiti pihak lain, baik secara fisik, verbal, sosial, maupun melalui dunia maya. Kedua, perilaku tersebut terjadi secara berulang. Ketiga, terdapat kesenjangan posisi antara pelaku dan korban, misalnya karena perbedaan senioritas atau kekuasaan.
Wirza mencontohkan perubahan perilaku yang sering dialami anak korban bullying, seperti yang awalnya ceria menjadi murung, menolak berangkat sekolah, atau sering mengeluh sakit perut menjelang sekolah. Menurutnya, perubahan tersebut seharusnya menjadi tanda bagi orang tua untuk bertanya dan mencari tahu penyebabnya.
Ia juga menyoroti respons orang tua dan guru ketika anak melapor. Banyak korban merasa kecewa karena laporan mereka dianggap sepele atau hanya dianggap bercanda. Wirza mencontohkan ketika anak berkata, "Mama aku dijahatin teman-teman," namun dijawab, "Ah udahlah paling juga bercanda." Respons semacam ini membuat anak membangun tembok dan belajar bahwa mengungkapkan perasaan kepada orang tua tidak ada gunanya.
Wirza menekankan pentingnya membangun koneksi dan validasi terlebih dahulu saat anak melapor. Orang tua sebaiknya merespons dengan empati, misalnya dengan mengatakan, "Oke, kamu mengalami hal yang tidak menyenangkan. Bagaimana perasaan kamu? Mama ada di sini." Setelah itu, barulah mengeksplorasi pelaku dan tindakan yang dilakukan.
Ia menegaskan bahwa rumah dan sekolah harus menjadi "ruang aman" bagi anak. Dari keluargalah anak belajar mengomunikasikan perasaan secara asertif. Jika di rumah anak sudah merasa aman, maka di sekolah tinggal melanjutkan rasa aman tersebut. Pembahasan lengkap mengenai bullying di sekolah dapat disaksikan melalui kanal YouTube @infosumbartv.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Angry
0
Sad
0
Wow
0