BMKG Deteksi Petir Vulkanik saat Erupsi Anak Krakatau, Gangguan Geomagnetik Ikut Meningkat

BMKG merekam fenomena sekunder erupsi Gunung Anak Krakatau berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat kenaikan sambaran petir dalam 12 jam terakhir. Petir vulkanik terbentuk dari ionisasi partikel abu akibat suhu erupsi yang sangat panas, bukan dari awan Cumulonimbus seperti petir biasa.

Oct 4, 2026 - 12:02
Oct 4, 2026 - 12:02
 0
BMKG Deteksi Petir Vulkanik saat Erupsi Anak Krakatau, Gangguan Geomagnetik Ikut Meningkat
BMKG Deteksi Petir Vulkanik saat Erupsi Anak Krakatau, Gangguan Geomagnetik Ikut Meningkat

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya fenomena sekunder yang menyertai erupsi Gunung Anak Krakatau. Fenomena tersebut berupa gangguan geomagnetik dan kemunculan petir vulkanik yang terekam pada 6 September.

Pelaksana Harian Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengungkapkan bahwa intensitas gangguan geomagnetik akibat petir vulkanik mengalami peningkatan. Meski demikian, peningkatan itu tidak sebesar ketika letusan awal terjadi.

"Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir," ujar Ardhasena, dikutip dari laman resmi BMKG, Minggu (6/9).

Secara umum, proses terbentuknya petir vulkanik tidak jauh berbeda dengan petir biasa. Keduanya terjadi akibat ionisasi, yakni pemisahan muatan menjadi ion positif dan ion negatif.

Pada petir biasa, proses ini berlangsung di dalam awan Cumulonimbus. Uap air yang naik ke atmosfer bagian atas membeku menjadi butiran es karena suhu yang sangat dingin. Saat butiran es jatuh dan bertabrakan dengan partikel lain, terjadi ionisasi yang memisahkan elektron dan membentuk muatan listrik. Bagian atas awan menjadi bermuatan positif, sedangkan bagian bawah bermuatan negatif. Perbedaan muatan ini dapat menciptakan beda tegangan hingga 100 juta volt dan memicu sambaran petir.

Sementara itu, petir vulkanik muncul karena ionisasi di dalam awan kepulan uap air, abu, debu, dan partikel vulkanik lain saat gunung meletus. Kombinasi suhu tinggi serta perbedaan ukuran, berat, dan kecepatan jatuh partikel memicu proses ionisasi tersebut.

Melansir situs BPBD, petir vulkanik dapat terjadi karena suhu erupsi yang sangat panas, sekitar 1.227 derajat Celcius, menghasilkan ionisasi pada atom debu netral. Proses ini membentuk ion positif dan negatif dalam jumlah besar.

Ionisasi pada kepulan abu vulkanik juga berkaitan dengan perbedaan ukuran dan berat partikel. Ion negatif umumnya berukuran lebih besar dan lebih berat sehingga bergerak lebih lambat dibanding ion positif yang ringan. Perbedaan kecepatan dan ukuran inilah yang membuat muatan positif dan negatif terpisah di dalam abu vulkanik, menghasilkan beda potensial listrik yang memicu sambaran petir.

Selain itu, partikel yang lebih besar dan berat akan lebih cepat jatuh akibat gaya gravitasi. Pada saat yang sama, tumbukan antarpartikel atau aerodynamic sorting turut memicu ionisasi yang menghasilkan petir vulkanik.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0