Arab Saudi Tegas Tolak Tawaran Militer Israel, MbS Khawatir Reaksi Rakyat Sendiri
Arab Saudi menolak bantuan militer Israel untuk memerangi Houthi Yaman. Penolakan disampaikan langsung Putra Mahkota Mohammed bin Salman karena khawatir kerja sama dengan Israel memicu reaksi negatif masyarakat Saudi. Tawaran Israel muncul di tengah meningkatnya serangan Houthi terhadap bandara Saudi yang menimbulkan korban jiwa.
Pemerintah Arab Saudi menolak tawaran bantuan militer dari Israel untuk ikut memerangi kelompok Houthi di Yaman. Penolakan itu disampaikan langsung oleh pemimpin de facto sekaligus Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MbS).
Laporan mengenai sikap tersebut mengutip sumber diplomatik yang tidak disebutkan namanya dalam pemberitaan surat kabar Israel, Haaretz, pada Senin (12/10). Menurut laporan itu, MbS tidak tertarik menerima bantuan militer Israel karena khawatir kerja sama dengan negara tersebut akan memicu reaksi negatif dari masyarakat Saudi.
Arab Saudi sendiri hingga kini tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Meski demikian, dalam hampir satu dekade terakhir Tel Aviv terus berupaya menjalin normalisasi hubungan dengan sejumlah negara Arab, terutama Arab Saudi.
Dalam konteks itu, upaya Israel memberikan bantuan kepada Arab Saudi dinilai bakal menjadi pintu pembuka bagi kerja sama militer yang lebih erat antara kedua negara. Langkah tersebut berpotensi membuka jalan bagi kesepakatan normalisasi hubungan di masa mendatang. Sementara itu, Arab Saudi disebut hanya memiliki satu syarat, yakni pengakuan kemerdekaan Palestina.
Tawaran bantuan militer Israel muncul di tengah serangan Houthi terhadap Arab Saudi yang terus meningkat. Serangan berulang terhadap bandara telah menimbulkan korban jiwa dan mengganggu penerbangan, sehingga membuat Arab Saudi kewalahan.
Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang lainnya. Serangan lain terhadap bandara yang sama pada Minggu menewaskan seorang warga Pakistan yang tinggal di Arab Saudi dan melukai 11 orang lainnya, menurut Otoritas Umum Penerbangan Sipil Arab Saudi.
Seorang pengacara Israel, Avi Kamionski, menulis opini di Times of Israel mengenai kemungkinan membuka hubungan kedua negara dalam situasi saat ini. Menurutnya, waktu tersebut sangat buruk bagi Riyadh karena Iran mempersempit Selat Hormuz, sehingga Arab Saudi mengirimkan lebih banyak minyaknya melalui Laut Merah.
Avi menilai ekspor minyak mentah Saudi melalui Bab al-Mandeb tahun ini telah berkali-kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Jika Houthi dapat mengancam jalur tersebut, mereka dinilai dapat mengancam perekonomian Saudi. Karena itu, ia menyarankan Israel mengajukan tawaran konkret, seperti berbagi informasi intelijen tentang aset Houthi dan Iran di Yaman, kerja sama pertahanan udara dan rudal, koordinasi keamanan Laut Merah, serta serangan Israel di tempat yang diinginkan Riyadh.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)