Alberta Gelar Referendum Pisah dari Kanada, Mayoritas Warga Justru Menolak Merdeka
Provinsi Alberta di Kanada menggelar referendum terkait kemerdekaan pada Senin (12/10). Meski gerakan separatis telah berjuang puluhan tahun, sekitar empat dari lima warga Alberta ingin tetap menjadi bagian dari Kanada. Referendum ini tidak langsung menentukan kemerdekaan, melainkan hanya soal memulai proses hukum menuju referendum kemerdekaan di masa depan. Ketidakpuasan terhadap kebijakan energi dan ekonomi menjadi akar gerakan ini.
Provinsi Alberta di Kanada resmi menggelar referendum terkait kemerdekaan pada Senin (12/10). Pemungutan suara ini menjadi momen penting bagi gerakan separatis yang selama puluhan tahun mendorong Alberta keluar dari Kanada. Alberta sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah kaya minyak di Kanada, dengan cadangan minyak terbesar keempat di dunia.
Meski demikian, hasil jajak pendapat menunjukkan gerakan separatis masih menghadapi tantangan besar. Sekitar empat dari lima warga Alberta ingin provinsi tersebut tetap menjadi bagian dari Kanada. Referendum ini juga tidak secara langsung menentukan kemerdekaan Alberta. Warga hanya dihadapkan pada dua pilihan, yaitu tetap menjadi bagian dari Kanada atau memulai proses hukum untuk menggelar referendum kemerdekaan pada masa mendatang.
Jika mayoritas pemilih mendukung langkah kedua, Alberta tetap harus melalui proses panjang sebelum bisa menjadi negara merdeka. Proses itu mencakup negosiasi dengan pemerintah federal di Ottawa, provinsi-provinsi lain, serta masyarakat adat yang tinggal di Alberta dan wilayah sekitarnya.
Pendiri organisasi advokasi Pathway to Independence, Cory Morgan, menjadi salah satu tokoh yang lebih dari 25 tahun memperjuangkan kemerdekaan Alberta. Ia menyatakan akan terus memperjuangkan gagasan tersebut meski warga menolak pemisahan diri dalam referendum. "Saya akan menghormati kehendak para pemilih. Jika mereka memutuskan bahwa belum saatnya untuk menempuh jalan itu, maka biarlah. Tapi itu tidak berarti saya akan berhenti," kata Morgan kepada Al Jazeera.
Profesor Ilmu Politik Universitas Alberta, Jared Wesley, menilai sebagian pendukung referendum sebenarnya tidak menginginkan kemerdekaan. Mereka menggunakan pemungutan suara tersebut untuk menyampaikan ketidakpuasan kepada Ottawa. Data Viewpoint Alberta, inisiatif penelitian berbasis di Universitas Alberta, menunjukkan dua pertiga pemilih yang mendukung referendum melakukannya untuk mengirim pesan kepada pemerintah federal. Morgan menyebut kelompok tersebut sebagai "separatis yang enggan", yakni warga yang merasa sudah putus asa dan ingin pemerintah federal lebih memperhatikan kepentingan Alberta.
Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, memperingatkan warga agar tidak menggunakan suara mereka sekadar untuk menyampaikan pesan. "Jangan tertipu oleh anggapan bahwa Anda dapat 'mengirim pesan' dengan suara Anda," kata Carney dalam acara pro-Kanada di Calgary pada Kamis (15/10). "Ini bukan poker. Suara menentang Kanada adalah gertakan berbahaya yang akan menyebabkan perpecahan mendalam dan ketidakpastian besar selama bertahun-tahun," ujarnya.
Keinginan Alberta memisahkan diri berakar pada persoalan ekonomi dan kebijakan energi yang berlangsung puluhan tahun. Sebagian kelompok separatis menilai provinsi itu mengirim terlalu banyak uang kepada pemerintah federal tanpa menerima manfaat sebanding. Bagi Morgan, ketidakpuasan menguat sejak 1980-an ketika pemerintahan Perdana Menteri Pierre Trudeau memperkenalkan Program Energi Nasional yang mengarahkan lebih banyak pendapatan industri energi Alberta ke Ottawa. Ketegangan kembali meningkat pada 2015 saat pemerintahan Justin Trudeau menerapkan pajak karbon nasional dan pembatasan emisi yang ditolak pelaku industri minyak Alberta. "Kita sudah berdebat tentang hal yang sama selama 50 tahun," kata Morgan.
Pandemi Covid-19 turut mendorong kebangkitan gerakan separatis. Menurut sejumlah ahli, demonstrasi menentang pembatasan kesehatan memobilisasi kelompok konservatif baru yang kemudian mendukung gerakan tersebut. Pada 2025, tekanan kelompok separatis semakin meningkat dan pemerintahan Perdana Menteri Alberta Danielle Smith mempermudah penyelenggaraan referendum. Meski mendukung penyelenggaraan referendum, Smith mengumumkan penolakannya terhadap pemisahan Alberta dari Kanada pada Rabu (14/10). "Menurut saya, sekarang bukanlah waktu untuk menyerah pada harapan di negara kita, apalagi setelah kita berjuang begitu lama dan mencapai begitu jauh," kata Smith dalam video di media sosial.
Wesley menilai referendum ini juga berkaitan dengan dinamika internal Partai Konservatif Bersatu yang dipimpin Smith. Dukungan terhadap pemisahan diri di kalangan anggota partai dinilai lebih tinggi dibandingkan dukungan masyarakat Alberta secara keseluruhan. "Kita mengadakan referendum karena Danielle Smith menginginkannya. Dia ingin menyelesaikan masalah internal partai dengan mengajukan pertanyaan kepada publik yang lebih luas," ujar Wesley. Sejumlah pengamat membandingkan referendum Alberta dengan Brexit, dan menilai kekalahan referendum belum tentu mengakhiri gerakan separatis karena para aktivis cenderung memainkan strategi jangka panjang.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)