UMKM Lokal Manfaatkan MotoGP Mandalika 2026 untuk Tembus Pasar Global
Ajang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Mandalika menjadi momentum bagi UMKM lokal untuk memperluas pasar. Pelaku usaha seperti Malindo Coffee, Sate Ibu Lilik, dan Estuaria Salt memanfaatkan event ini untuk memperkenalkan produk khas Lombok ke wisatawan global. Dukungan Pertamina melalui Rumah BUMN memberikan pelatihan dan pendampingan, sementara produk dijual dengan harga Rp20 ribu hingga Rp100 ribu.
Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 yang berlangsung di Mandalika pada 9-11 Oktober tidak hanya menjadi panggung bagi para pembalap dunia, tetapi juga membuka peluang besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal. Ajang bergengsi ini dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan pasar dan memperkenalkan produk khas Lombok ke kancah internasional.
Rohaniah, pemilik Malindo Coffee, melihat kesempatan ini sebagai momen untuk tidak sekadar berjualan. Ia ingin setiap produk yang dijual membawa cerita yang melekat di ingatan wisatawan. "Mandalika adalah destinasi super prioritas yang menarik wisatawan global. Wisatawan dengan mobilitas tinggi ini membutuhkan suvenir dan kopi yang disajikan dan dikemas praktis. Oleh karena itu, Malindo Coffee berinovasi menciptakan stik kopi pertama di Lombok. Kami berharap saat dunia melihat Mandalika, mereka juga membawa produk lokal dari Malindo," ujarnya.
Inovasi Malindo Coffee berupa stik kopi dikemas ringkas dan praktis, menyesuaikan karakter wisatawan yang berkunjung dalam waktu singkat namun ingin membawa oleh-oleh. Hal serupa juga dilakukan oleh M. Arif Yani, pemilik Sate Ibu Lilik, yang memanfaatkan ajang ini untuk memperkenalkan sate lilit ayam sebagai kuliner khas Lombok yang bisa dibawa pulang.
Bagi usaha kecil, kesempatan membuka lapak di area Festival seputaran Pertamina Mandalika International Circuit menjadi pintu masuk ke pasar yang lebih luas. UMKM yang tergabung dalam Rumah BUMN Pertamina ini merasa lebih siap karena telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan. "Hadirnya ajang ini menjadi ruang perkenalan. Harapan kami pengalaman merasakan makanan lokal ini dapat berbuah rekomendasi yang disebarkan satu orang ke orang lain," kata Arif.
Produk lokal lain yang turut meramaikan adalah Estuaria Salt. Pemiliknya, Andika Satriawan, mengusung misi ekonomi dan sosial dengan mengolah garam lokal menjadi berbagai produk seperti aromaterapi, bath salt, massage oil, dan candle. "Kami ingin mengangkat garam lokal, handcrafted dari ibu-ibu para nelayan," ujarnya. Garam petani yang sebelumnya dihargai sekitar Rp3 ribu per kilogram, dibeli Estuaria Salt seharga Rp5 ribu-Rp6 ribu per kilogram untuk diolah menjadi produk bernilai jual lebih tinggi.
Beragam produk UMKM yang dipasarkan di momentum Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 dibanderol dengan harga Rp20 ribu hingga Rp100 ribu. Kehadiran event internasional ini pun membuat konsumen dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara datang mencari produk lokal.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menegaskan bahwa Pertamina Grand Prix of Indonesia merupakan momentum membawa nama Indonesia ke panggung dunia melalui olahraga motorsport. Namun, ia berharap nilai yang dibawa tidak berhenti di lintasan. "Ada ekonomi yang bergerak di sekelilingnya, ada produk yang memperoleh panggung, dan ada pelaku usaha yang mendapatkan kesempatan untuk memperluas jejaring," katanya.
Baron menambahkan, di sinilah event internasional menemukan makna ekonominya yang paling dekat dengan masyarakat, karena telah memberikan jalan bagi usaha-usaha kecil di sekitarnya. Keberadaan ajang ini pun menjadi bukti bahwa kegiatan olahraga bertaraf internasional dapat memberikan dampak luas bagi perekonomian warga sekitar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)