Trump Sebut Houthi Sengaja Naikkan Harga Minyak Jelang Pemilu AS, Ancam Serangan Lanjutan
Presiden AS Donald Trump menuduh milisi Houthi di Yaman sengaja menargetkan infrastruktur Arab Saudi untuk mendongkrak harga minyak dunia menjelang pemilu sela AS. Trump menyebut Houthi bertindak sangat buruk dan mengisyaratkan serangan militer lanjutan setelah pemilu November. Ia menegaskan tidak akan melupakan serangan tersebut dan akan tetap ada setelah pemilu.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding milisi Houthi di Yaman memiliki niat terselubung di balik serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi. Menurut Trump, serangan itu bertujuan menaikkan harga minyak dunia menjelang pemilihan umum sela atau midterm elections di AS.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun media sosialnya, Truth Social. Ia menilai Houthi telah bertindak sangat buruk dan kembali melontarkan ancaman bahwa AS dapat meningkatkan serangan militer di seluruh Timur Tengah setelah pemilu sela November mendatang.
Dalam unggahannya, Trump menyebut Houthi sempat lama diam, namun kini muncul kembali, kemungkinan atas perintah Iran. Ia menggambarkan Iran sebagai negara yang sedang gagal, tanpa angkatan laut dan angkatan udara, dengan ekonomi terburuk di dunia serta inflasi mencapai 301 persen. Menurut Trump, Houthi menyerang Arab Saudi dengan cara yang sangat keji dan sengaja berupaya mendongkrak harga minyak, mungkin menjelang pemilu AS.
Pada Selasa (12/10), Trump menegaskan dirinya tidak akan pernah melupakan serangan Houthi terhadap Arab Saudi. Pernyataan itu dinilai mengisyaratkan ancaman serangan militer AS lanjutan setelah pemilu sela.
Trump juga menyampaikan pesan tegas kepada Houthi. Ia mengatakan harus ada pihak yang menjelaskan bahwa dirinya tidak sedang mencalonkan diri dalam pemilu. Trump mengklaim telah menang dengan kemenangan telak yang luar biasa, tetapi akan tetap ada setelah pemilu dan tidak akan pernah melupakan serangan tersebut.
Sebelumnya, serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran sejak Februari lalu telah menyebabkan lonjakan harga minyak dunia. Kondisi itu turut memicu kenaikan biaya hidup di AS dan berbagai negara lain.
Lonjakan biaya hidup tersebut menjadi ujian bagi Partai Republik yang dipimpin Trump untuk mempertahankan dominasi mayoritas di DPR dan Senat pada pemilu sela nanti. Sementara itu, Partai Demokrat sebagai oposisi berharap dapat memanfaatkan merosotnya popularitas Trump pada pemilu kali ini.
Dilansir Al Jazeera, berbagai jajak pendapat menunjukkan hampir 70 persen pemilih di AS menganggap perang AS dan Iran tidak layak dilakukan. Trump selama ini menepis hasil jajak pendapat yang tidak menguntungkan dirinya dengan menyebutnya palsu. Ia lebih merujuk pada besarnya massa yang hadir dalam rapat umum partai sebagai bukti popularitasnya.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)