Tanggap Darurat Galodo Arosuka Diperpanjang, Dua Warga Meninggal dan 513 Orang Mengungsi

Pemerintah Kabupaten Solok memperpanjang masa tanggap darurat bencana galodo Arosuka hingga 12 Oktober 2026. Dua warga meninggal dunia dan 513 orang masih mengungsi. Pembersihan material, evakuasi, serta mitigasi seperti pembangunan sistem peringatan dini dan sabo dam terus dilakukan dengan melibatkan TNI, Polri, BPBD, dan berbagai pihak.

Oct 07, 2026 - 08:02
Updated: 3 days ago
0 0
Tanggap Darurat Galodo Arosuka Diperpanjang, Dua Warga Meninggal dan 513 Orang Mengungsi
Tanggap Darurat Galodo Arosuka Diperpanjang, Dua Warga Meninggal dan 513 Orang Mengungsi

Pemerintah Kabupaten Solok resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana banjir bandang atau galodo yang melanda kawasan Arosuka. Perpanjangan berlaku hingga 12 Oktober 2026, setelah masa tanggap darurat awal yang dimulai 22 September 2026 berakhir pada 5 Oktober. Kebijakan ini diambil karena penanganan dampak bencana masih membutuhkan penanganan intensif di lapangan.

Bencana dipicu oleh hujan berintensitas tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Solok sejak sore hingga malam pada Senin, 21 September 2026. Hujan tersebut memicu longsoran di kawasan hulu Sungai Batang Laso. Material berupa lumpur, pasir, batu, dan air terbawa arus hingga menerjang Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok serta permukiman warga. Nagari Batang Barus dan Nagari Koto Gaek Guguak menjadi dua wilayah yang terdampak langsung.

Status tanggap darurat ditetapkan melalui Keputusan Bupati Solok Nomor 300.2-265-2026 tertanggal 22 September 2026. Selama masa tanggap darurat, fokus penanganan meliputi pencarian dan pertolongan, evakuasi warga, pemenuhan kebutuhan dasar, pembersihan material, pemulihan akses dan fasilitas umum, serta memastikan pelayanan pemerintahan tetap berjalan.

Dalam bencana ini, dua warga dilaporkan meninggal dunia, yakni Daffi Arahman (21) dan Agusra (59). Sejumlah warga juga mengalami luka-luka, termasuk dua korban luka berat. Hingga kini, sebanyak 513 orang masih mengungsi. Mereka tersebar di beberapa titik, antara lain 10 orang di Rumah Pabrik Tahu, 15 orang di Petshop, dan 488 orang mengungsi secara mandiri.

Penanganan korban mendapat perhatian pemerintah pusat. Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau RSUD Arosuka pada 25 September 2026 dan meminta agar para korban mendapatkan pelayanan hingga pulih serta kelompok rentan di lokasi pengungsian terus dipantau.

Dampak bencana juga merusak sejumlah bangunan pemerintahan dengan tingkat kerusakan berat, sedang, hingga ringan. Bangunan yang terdampak antara lain Gedung Kantor Permanen Sekretariat DPRD, Gedung Kantor Dinas Pariwisata, Gedung Kantor Dinas PUPR, Gedung Kantor DPMN, dan Gedung Pos Jaga Satpol PP.

Penanganan di lapangan melibatkan personel gabungan dari TNI AD/Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, Kodim 0309/Solok, Yon TP 951/PM, Denzipur, TNI AL, Polri, pemerintah daerah, BPBD, PMI, dan unsur lainnya. Bupati Solok menegaskan bahwa bencana besar tidak mungkin ditangani oleh satu institusi saja. "Bencana besar tidak mungkin ditangani oleh satu institusi. Ia membutuhkan kerja bersama," ujarnya.

Pembersihan kawasan terdampak juga didukung peralatan berat dalam jumlah besar dari BPBPK, BPJN, BWSS V, Dinas PUPR, BNPB, TNI, serta pihak swasta. Berbagai alat dikerahkan, seperti excavator besar dan kecil, excavator breaker, dump truck, motor grader, wheel loader, backhoe loader, water tanker, hingga excavator capit. BWSS V mengerahkan 12 excavator besar dan dua excavator breaker, sementara BPBPK mengirimkan dua excavator besar, satu excavator kecil, delapan dump truck, dan satu excavator breaker.

Selain pembersihan material, tim gabungan juga melakukan pembersihan sungai untuk mengurangi potensi bencana susulan. Badan Geologi Kementerian ESDM pada 5 Oktober 2026 mendorong pembangunan sistem peringatan dini terpadu dan sabo dam sebagai upaya mitigasi. Badan Geologi juga merekomendasikan evaluasi menyeluruh terhadap Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten Solok. Jika hasil kajian menunjukkan kawasan tersebut berada di jalur aliran utama atau zona pengendapan material, relokasi bertahap ke lokasi yang lebih aman dapat menjadi langkah mitigasi jangka menengah dan panjang.

Bupati Solok mengarahkan seluruh jajaran agar keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Seluruh unsur diminta bekerja cepat, terpadu, dan responsif serta memastikan warga terdampak memperoleh pelayanan, bantuan, dan kebutuhan dasar. Wakil Bupati H. Candra juga terlibat dalam koordinasi bersama Forkopimda, termasuk memantau pembersihan kawasan dan evaluasi penanganan darurat. Dengan perpanjangan masa tanggap darurat, penanganan galodo Arosuka tidak hanya difokuskan pada penyelesaian dampak bencana, tetapi juga memastikan kawasan terdampak lebih aman menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User