Satu dari Enam Anggota Parlemen Eropa Perempuan Jadi Korban Deepfake Pornografi, Laporan Ungkap 50 Nama

Laporan Agora Digitale Transformation mengungkap 50 anggota Parlemen Eropa menjadi sasaran deepfake pornografi, dengan 46 di antaranya perempuan atau sekitar satu dari enam anggota parlemen perempuan. Peneliti menelusuri 720 nama di 200 situs dan menemukan paparan konten seksual berbasis AI tanpa persetujuan lebih banyak menimpa perempuan serta melintasi semua kelompok politik. Uni Eropa telah melarang aplikasi AI pembuat gambar telanjang tanpa persetujuan mulai 2 Desember dan menyelidiki Grok milik X.

Oct 07, 2026 - 20:02
Updated: 1 day ago
0 0
Satu dari Enam Anggota Parlemen Eropa Perempuan Jadi Korban Deepfake Pornografi, Laporan Ungkap 50 Nama
Satu dari Enam Anggota Parlemen Eropa Perempuan Jadi Korban Deepfake Pornografi, Laporan Ungkap 50 Nama

Sebuah laporan terbaru dari kelompok masyarakat sipil Jerman, Agora Digitale Transformation, mengungkap bahwa 50 anggota Parlemen Eropa telah menjadi sasaran deepfake pornografi. Dari jumlah tersebut, 46 di antaranya adalah perempuan, sementara empat lainnya laki-laki. Temuan ini dirilis pada Senin (5/10) dan menjadi sorotan karena menunjukkan skala ancaman yang sistemik terhadap perempuan di dunia politik Eropa.

Deepfake pornografi sendiri merupakan konten seksual eksplisit yang dibuat menggunakan kecerdasan buatan tanpa persetujuan orang yang menjadi sasaran. Dalam laporannya, Agora Digitale Transformation menyebut gambar intim tanpa persetujuan yang dihasilkan AI atau AIG-NCII sebagai ancaman sistemik bagi perempuan dalam politik Eropa.

Untuk mendapatkan temuan tersebut, peneliti memeriksa ratusan situs yang diketahui memuat atau memproduksi konten seksual berbasis AI. Situs-situs itu mencakup platform deepfake pornografi, kebocoran foto selebritas, hingga gambar tidak pantas yang menampilkan perempuan di ruang publik. Peneliti kemudian menelusuri nama 720 anggota Parlemen Eropa di sekitar 200 situs menggunakan mesin pencari khusus Google.

Hasil penelusuran menunjukkan 50 anggota parlemen digambarkan atau dikaitkan dengan deepfake pornografi. Sebanyak 46 di antaranya perempuan, yang berarti sekitar satu dari enam anggota Parlemen Eropa perempuan mengalami hal tersebut. Laporan itu menegaskan paparan terhadap konten seksual berbasis AI tanpa persetujuan lebih banyak dialami perempuan.

Peneliti juga menemukan bahwa masalah ini terjadi pada anggota parlemen dari berbagai kelompok politik. Menurut laporan tersebut, tingginya visibilitas seseorang karena memegang jabatan publik turut meningkatkan risiko menjadi sasaran konten semacam itu.

"Seperti dalam audit terbaru kami tentang paparan yang dihadapi anggota parlemen nasional Uni Eropa, kami menemukan bahwa paparan terhadap bahaya ini sebagian besar menimpa perempuan, diperkuat oleh visibilitas kelembagaan, dan mempengaruhi semua kelompok utama di seluruh spektrum politik," demikian bunyi laporan tersebut.

Uni Eropa telah mengambil sejumlah langkah untuk menangani penyalahgunaan teknologi AI dalam pembuatan konten seksual. Salah satunya dengan melarang aplikasi berbasis AI yang dapat membuat gambar telanjang tanpa persetujuan mulai 2 Desember. Uni Eropa juga tengah menyelidiki penggunaan teknologi serupa yang melibatkan Grok, layanan AI milik perusahaan media sosial X.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User