Pelajar Prancis Turun ke Jalan, Keluhkan Sekolah Rusak hingga Kekurangan Guru
Pelajar di Prancis menggelar demonstrasi menuntut perbaikan fasilitas sekolah yang dinilai memprihatinkan, mulai dari bangunan rusak, kelas sesak, hingga kekurangan guru. Aksi yang awalnya damai berujung ricuh setelah aparat menembakkan gas air mata dan melakukan penangkapan massal. OECD menyoroti kesenjangan pendidikan yang membuat pelajar kurang beruntung semakin sulit keluar dari latar belakang sosial ekonomi.
Gelombang demonstrasi pelajar kembali terjadi di Prancis. Aksi yang berlangsung sejak pekan lalu di berbagai wilayah ini menyuarakan tuntutan perbaikan sistem pendidikan dan fasilitas sekolah yang dinilai jauh dari memadai. Sayangnya, unjuk rasa yang semula berjalan damai harus berakhir ricuh setelah aparat keamanan menembakkan gas air mata dan melakukan penangkapan massal terhadap sejumlah peserta demo.
Di balik aksi tersebut, para pelajar mengungkap sejumlah persoalan serius yang membelit dunia pendidikan Prancis. Mereka menilai sistem pendidikan negara itu masih diliputi ketidaksetaraan yang tajam. Banyak bangunan sekolah mengalami kerusakan parah, ukuran kelas terlalu besar atau sesak, kekurangan meja dan kursi, hingga minimnya tenaga pengajar.
Kondisi memprihatinkan itu terutama terlihat di sejumlah sekolah menengah di daerah pinggiran. Video yang direkam oleh pelajar dan pengajar memperlihatkan atap sekolah bocor, tikus berkeliaran, lubang menganga di dinding dan langit-langit, toilet rusak, serta kurangnya meja dan kursi untuk kegiatan belajar mengajar.
Jam belajar di Prancis juga menjadi sorotan. Para pelajar mengeluhkan durasi belajar yang lebih panjang dibanding rata-rata negara anggota OECD. Kegiatan belajar mengajar berlangsung dari pukul 08.00 hingga 18.00 waktu setempat dengan banyak jeda. Menurut para guru, durasi tersebut muncul akibat perubahan ujian baccalaureate yang memungkinkan lebih banyak pilihan kombinasi mata pelajaran individual.
Selain fasilitas dan jam belajar, para pelajar menyoroti tingginya angka guru yang absen tanpa pengganti, terutama di daerah pinggiran. Persoalan ini semakin memperparah kualitas pembelajaran yang diterima siswa.
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) membenarkan gambaran kelam tersebut. Menurut OECD, anak yang lahir dan bersekolah di lingkungan miskin Prancis memiliki peluang lebih kecil untuk keluar dari latar belakang sosial ekonomi dibandingkan di sebagian besar negara maju lainnya.
Analis pendidikan Prancis di OECD, Éric Charbonnier, mengungkapkan adanya kesenjangan antara prestasi siswa paling beruntung dan yang kurang beruntung. "Dan seringkali pelajar yang kurang beruntung berada di sekolah yang kurang beruntung," ujarnya, seperti dikutip The Guardian. Kondisi ini pun memunculkan masalah serius terkait kualitas pembelajaran yang diberikan.
Ironisnya, Prancis tercatat menggelontorkan dana besar untuk pendidikan. Pengeluaran untuk pendidikan menengah atas bahkan 28 persen lebih tinggi dari rata-rata anggota OECD. Namun, pengeluaran untuk tingkat pendidikan pertama, termasuk pra-sekolah dan sekolah dasar, hanya 11 persen atau di bawah rata-rata OECD. Ketidakjelasan alokasi dan hasil dari belanja pendidikan pun menjadi pertanyaan besar di tengah gelombang protes pelajar.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)