Mentan Amran Bocorkan Ada Negara Baru Minta Beras RI, Pengumuman Segera Disampaikan
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap ada satu negara lagi yang meminta impor beras dari Indonesia setelah pasar ekspor dibuka. Identitas negara dan jumlah permintaan belum diungkap dan akan diumumkan dalam waktu dekat. Pemerintah juga mengeklaim ekspor pertanian 2025 mencapai Rp166 triliun dengan impor turun Rp41 triliun.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa ada satu negara lagi yang meminta pasokan beras dari Indonesia. Permintaan itu muncul setelah Indonesia mulai membuka pasar ekspor beras ke sejumlah negara.
"Ada lagi permintaan ekspor (beras) ke salah satu negara, tunggu aja beritanya besok atau lusa. Kemarin telepon salah satu negara meminta beras," kata Amran dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, Senin (19/10).
Meski demikian, Amran belum bersedia menyebutkan negara yang dimaksud maupun jumlah beras yang diminta. Pemerintah disebut akan mengumumkan permintaan tersebut dalam waktu dekat.
Menurut Amran, pemerintah tidak hanya mengejar target swasembada beras, tetapi juga membangun ekosistem pangan yang menghubungkan produksi petani dengan kebutuhan industri dan pasar. Salah satu caranya melalui skema penyerapan hasil panen jagung oleh peternak, sementara kelebihan produksi bisa disalurkan ke Perum Bulog lewat sistem resi gudang.
Pemerintah juga tengah membahas pembangunan pabrik untuk menyerap kelebihan produksi telur ayam. Selain itu, program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung melalui Bulog disiapkan guna mendukung kebutuhan pakan, dan Amran meminta Bulog mempercepat distribusinya.
Di sisi lain, Amran mengeklaim kinerja perdagangan sektor pertanian mengalami peningkatan. Ia menyebut nilai ekspor pertanian pada 2025 mencapai Rp166 triliun, sedangkan impor turun Rp41 triliun.
"Ekspor kita naik 2025 itu Rp166 triliun, impor kita turun Rp41 triliun. Rp208 triliun tambahan nilai dengan kebijakan-kebijakan sektor pertanian," ujarnya.
Amran juga menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 131 dan diklaim sebagai angka tertinggi sepanjang sejarah. Ia mengaitkan capaian itu dengan penurunan harga pupuk sebesar 20 persen serta kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah menjadi Rp6.500 per kilogram.
Sebelumnya, Indonesia menyepakati ekspor 1.000 ton beras premium komersial ke Malaysia melalui kerja sama Bulog dengan perusahaan asal Malaysia, Padi dan Beras Borneo Sdn Bhd. Pengiriman direncanakan berlangsung bertahap untuk memenuhi kebutuhan beras di Sarawak yang diperkirakan mencapai 200 ribu ton per tahun. Pemerintah juga pernah mengusulkan ekspor minimal 10 ribu ton beras ke Singapura.
Sementara itu, rencana pengiriman 2.280 ton beras untuk kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia di Arab Saudi pada 2026 sempat menunggu asesmen keamanan dari sejumlah instansi terkait di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)