Konflik Houthi vs Arab Saudi Memanas, Harga Minyak Dunia Melonjak ke US$106,58 per Barel
Harga minyak mentah dunia melonjak pada Rabu (14/10) akibat eskalasi konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi. Brent naik 0,8 persen ke US$106,58 per barel, sementara WTI menguat 0,9 persen ke US$94,94 per barel. Serangan Houthi terhadap fasilitas Saudi Aramco dan ancaman di Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan global.
Harga minyak mentah dunia kembali menanjak pada Rabu (14/10) seiring memanasnya konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi. Berdasarkan laporan Reuters, minyak mentah Brent naik 89 sen atau 0,8 persen menjadi US$106,58 per barel pada pukul 00.30 GMT atau 07.30 WIB. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 80 sen atau 0,9 persen menjadi US$94,94 per barel.
Kepala Strategi Nissan Securities Investment, Hiroyuki Kikukawa, menilai kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat eskalasi konflik menjadi pendorong utama kenaikan harga. Meski demikian, dampaknya dinilai sedikit terbatas oleh ekspektasi peningkatan ekspor diesel dari Rusia. "Harga WTI akan bergerak di kisaran 90 hingga 100 dolar AS per barel," ujar Hiroyuki.
Eskalasi di kawasan memuncak setelah Kementerian Energi Arab Saudi mengonfirmasi bahwa kelompok Houthi menyerang fasilitas gedung administrasi milik perusahaan minyak negara, Saudi Aramco, di Kota Dhahran. Serangan tersebut memicu kebakaran terbatas. Sepanjang sepekan terakhir, gelombang serangan rudal balistik dan pesawat nirawak Houthi terus membombardir wilayah Arab Saudi.
Serangan tersebut merupakan aksi balasan atas dukungan Arab Saudi terhadap Pemerintah Yaman. Bandara internasional Riyadh juga diserang sebanyak empat kali pada Sabtu lalu dan menewaskan 13 orang.
Konstelasi pasar semakin terancam setelah pejabat senior Iran membeberkan bahwa Teheran tengah menerapkan taktik baru untuk menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz. Langkah tersebut bertujuan mempertahankan harga minyak dunia tetap tinggi dan memengaruhi pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat.
Di tengah gangguan jalur pelayaran akibat perang AS-Iran, Arab Saudi bersama kelompok OPEC+ dilaporkan telah meningkatkan produksi minyak secara signifikan sejak bulan lalu guna menopang pasokan global. OPEC+ merupakan kelompok yang terdiri dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan mitranya, termasuk Rusia.
Terkait kesepakatan energi global lainnya, Pemerintah Rusia menegaskan tidak melihat adanya hubungan langsung antara pembicaraan damai dengan Ukraina dan kesepakatan ekspor diesel ke Amerika Serikat. Penegasan Moskow tersebut bertolak belakang dengan laporan utusan AS yang sebelumnya menyampaikan kepada pejabat Ukraina bahwa kesepakatan ekspor diesel tersebut difungsikan sebagai instrumen untuk menarik Rusia kembali ke meja perundingan guna mencapai penyelesaian damai.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)