Kisruh di Kapal Induk USS Lincoln: 7 Tentara AS Tewas Usai Bentrok, Stres Berat Melanda

Kapal induk USS Abraham Lincoln menjadi sorotan setelah 7 tentara AS tewas dalam perkelahian di atas kapal. Bentrok dipicu oleh frustrasi akibat pengerahan 263 hari yang melelahkan, dengan awak yang stres hingga mencoba bunuh diri. Petinggi militer membantah adanya kerusakan kapal, namun keluarga personel mendesak agar kapal segera berlabuh.

Aug 19, 2026 - 00:41
Aug 19, 2026 - 00:41
 0
Kisruh di Kapal Induk USS Lincoln: 7 Tentara AS Tewas Usai Bentrok, Stres Berat Melanda
Kisruh di Kapal Induk USS Lincoln: 7 Tentara AS Tewas Usai Bentrok, Stres Berat Melanda

Kapal induk USS Abraham Lincoln milik Amerika Serikat menjadi pusat perhatian setelah insiden perkelahian yang menewaskan tujuh tentara di tengah ketegangan dengan Iran. Peristiwa ini memicu kekhawatiran tentang kondisi mental para awak yang telah lama bertugas di Timur Tengah.

Menurut laporan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, bentrokan bermula ketika penasihat kepala Komando Pusat (CENTCOM), Brad Cooper, naik ke kapal untuk menanggapi keluhan awak. Namun, ia dicemooh dan dilempari botol saat berbicara di hadapan personel. Konfrontasi kemudian meningkat menjadi perkelahian yang melibatkan pisau dan senjata tajam lainnya.

USS Lincoln telah dikerahkan selama 263 hari dan beroperasi di Samudra Hindia, dengan 208 hari berturut-turut di laut. Kondisi ini membuat banyak tentara frustrasi dan ingin segera pulang. Beberapa keluarga personel mengungkapkan bahwa suami atau anak mereka mengalami kelelahan emosional yang parah, bahkan ada yang mencoba melompat ke laut.

Annabelle Loma, istri seorang tentara, menceritakan bahwa suaminya mencoba melompat ke laut karena kelelahan. "Dia takut. Dia pikir akan diberhentikan secara tidak hormat, dan hanya karena dia kelelahan, kariernya selama 13 tahun hancur begitu saja," ujarnya. Bonnie York, yang anak tirinya bertugas di kapal, juga menyebut moral para awak sangat buruk dan dokter kapal menyarankan agar kapal segera berlabuh.

Kapal induk dengan dek penerbangan yang penuh pesawat dan baling-baling berputar cepat, serta aktivitas bongkar muat bom dan rudal, menjadi lingkungan yang sangat berbahaya. Brett Snow, ayah dari seorang awak, mengatakan, "Ini sudah menjadi tempat paling berbahaya di dunia, dan sekarang Anda harus bekerja keras, hari demi hari, tanpa istirahat."

Sementara itu, Juru bicara Armada ke-5 Angkatan Laut, Komandan Joseph Hontz, membantah adanya kerusakan kapal seperti toilet tersumbat. Ia menegaskan bahwa personel memiliki akses ke kelas kebugaran, tim kesehatan mental, dan tim pendeta, serta dapat menggunakan internet untuk berkomunikasi dengan keluarga ketika situasi memungkinkan.

Insiden ini menyoroti tekanan besar yang dihadapi personel militer AS dalam misi berkepanjangan, dan memicu pertanyaan tentang kebijakan pengerahan pasukan di tengah konflik yang belum berakhir.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0