Kaya Raya tapi Rakyatnya Sekarat, Kongo Punya Gunung Emas tapi Dihantam Ebola dan Kelaparan

Republik Demokratik Kongo dikenal kaya emas setelah penemuan 'gunung emas' di Kivu Selatan pada 2021. Namun di balik kekayaan tambangnya, negara ini justru bergulat dengan wabah Ebola yang melonjak hingga 5.514 kasus dan 2.642 kematian per Agustus 2026, ditambah krisis kemanusiaan, banjir, dan kelaparan akut yang menghantam hampir seperempat penduduknya.

Sep 30, 2026 - 00:02
Sep 30, 2026 - 00:02
 0
Kaya Raya tapi Rakyatnya Sekarat, Kongo Punya Gunung Emas tapi Dihantam Ebola dan Kelaparan
Kaya Raya tapi Rakyatnya Sekarat, Kongo Punya Gunung Emas tapi Dihantam Ebola dan Kelaparan

Republik Demokratik Kongo (RDK) sempat menjadi sorotan dunia setelah penemuan yang dijuluki 'gunung emas' pada 2021. Lokasi penemuan itu berada di Provinsi Kivu Selatan, tepatnya di Venant Burume Muhigirwa, yang langsung diburu para penambang demi mengeruk kekayaan dari bijih emas yang melimpah. Video yang beredar di media sosial kala itu memperlihatkan warga begitu mudah mendapatkan emas dalam jumlah besar.

Otoritas pertambangan Kivu Selatan membenarkan bahwa penemuan bijih kaya emas tersebut memicu gelombang pencarian oleh warga. Pemerintah kemudian melarang aktivitas penambangan di kawasan itu dan meminta para penambang, pedagang, hingga anggota angkatan bersenjata RDK (FARDC) meninggalkan lokasi. Langkah itu diambil agar para penambang dapat diidentifikasi dan terdaftar sesuai aturan pertambangan tradisional.

Meski dikenal sebagai salah satu penghasil emas terbesar dunia, sektor pertambangan yang disebut menjadi tulang punggung perekonomian RDK ternyata tidak serta-merta membawa kesejahteraan bagi rakyatnya. Sektor ini memang menyumbang sebagian besar produk domestik bruto negara dan disebut berpotensi mendorong pembangunan ekonomi serta pengurangan kemiskinan, namun kenyataan di lapangan berkata lain.

Di tengah limpahan tambang, RDK justru menghadapi wabah Ebola yang berkembang pesat dan kelaparan ekstrem yang belum teratasi. Data per Agustus 2026 mencatat kasus terkonfirmasi melonjak menjadi 5.514 kasus dengan 2.642 kematian. Wabah yang berpusat di provinsi-provinsi timur itu memberi tekanan tambahan pada sistem kesehatan yang sudah kewalahan, sekaligus meningkatkan kebutuhan kemanusiaan di komunitas yang terdampak konflik dan pengungsian.

Mitra kemanusiaan dan kesehatan disebut terus mendukung upaya pengawasan, pengobatan, pencegahan infeksi, serta keterlibatan masyarakat untuk menekan penyebaran penyakit. Namun ketidakamanan dan kendala akses kemanusiaan di wilayah timur membuat penanggulangan wabah berjalan jauh dari mudah.

Situasi itu diperparah oleh krisis kemanusiaan yang digambarkan badan kemanusiaan PBB, UN OCHA, sebagai kondisi belum pernah terjadi sebelumnya. Konflik bersenjata yang berkelanjutan, pengungsian massal, guncangan iklim, dan epidemi yang berulang membuat jutaan warga Kongo harus berjuang bertahan hidup setiap hari di tengah kekerasan, kemiskinan, dan ketidakstabilan yang berkepanjangan.

Perubahan iklim turut memperburuk keadaan. Pada 2025, hujan lebat dan banjir menghancurkan Kinshasa dan sejumlah wilayah lain. Bencana serupa di Kasai Raya dan Maniema merusak ribuan hektare lahan pertanian, memicu kerawanan pangan yang semakin parah. Akibatnya, hampir seperempat penduduk RDK kini hidup dalam kondisi kerawanan pangan akut, sebuah ironi di negara yang disebut kaya akan emas.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Angry Angry 0
Sad Sad 0
Wow Wow 0