Kabut Asap Karhutla RI Selimuti Dili, Timor Leste Liburkan Sekolah Tiga Hari
Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meluas hingga ke Timor Leste. Langit Dili menguning dan polusi udara disebut sangat pekat. Pemerintah Timor Leste menutup sekolah secara nasional selama tiga hari sebagai langkah preventif melindungi siswa dan guru. Warga mengaku sulit melihat matahari dan khawatir jatuh sakit, sementara siswa tetap belajar dari rumah menjelang ujian akhir.
Dampak kebakaran hutan dan lahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Timor Leste menjadi salah satu negara Asia Tenggara yang turut terdampak kabut asap, dengan langit di ibu kota Dili tampak menguning seiring memburuknya kondisi karhutla akibat musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino.
Ratusan ribu hektare hutan dan perkebunan di Sumatra, Kalimantan, dan Papua dilaporkan terbakar. Asap dari kebakaran tersebut terbawa jauh hingga ke negara-negara tetangga, terutama Malaysia dan Singapura. Sejak awal pekan ini, Timor Leste juga masuk daftar negara yang terdampak.
Menyikapi kondisi itu, Kementerian Pendidikan Timor Leste memutuskan menutup sekolah secara nasional selama tiga hari. Kebijakan itu diumumkan pada Rabu (14/10) sebagai langkah preventif untuk melindungi kesehatan para siswa, guru, dan seluruh anggota komunitas pendidikan di tengah kualitas udara yang memburuk.
Sonya da Costa Soares, seorang bidan berusia 30 tahun, mengungkapkan bahwa polusi di Dili dalam beberapa hari terakhir berada pada tingkat yang sangat parah. "Kami bahkan tidak bisa melihat matahari. Polusinya sangat pekat," ujarnya kepada AFP.
Senada dengan itu, warga bernama Felicidade Alves dos Santos Martins menyebut polusi udara di ibu kota sempat jauh lebih buruk pada awal pekan. Ia menggambarkan situasinya seperti asap kebakaran yang menyelimuti seluruh Dili dan kawasan pegunungan. Menurutnya, polusi tersebut sangat berbahaya dan bisa membuat warga jatuh sakit.
Meski langit menguning, aktivitas masyarakat di Dili umumnya masih berjalan seperti biasa. Sebagian besar warga memilih mengenakan masker sesuai instruksi pemerintah untuk mengurangi paparan polusi.
Di tengah peliburan sekolah, Vitaliano da Costa Calapes, siswa berusia 18 tahun di St. Ignatius Loyola College, mengatakan bahwa ia dan teman-temannya tetap belajar dari rumah karena sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir. Ia berharap kondisi udara segera membaik sehingga kegiatan sekolah bisa kembali normal.
Keputusan penutupan sekolah nasional selama tiga hari menjadi penanda bahwa kabut asap dari karhutla Indonesia tidak hanya menjadi persoalan domestik, tetapi juga berdampak lintas negara di kawasan.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)