Jelang Pemilu 27 Oktober, Koalisi Netanyahu Tertinggal Tipis dari Blok Oposisi Israel

Jajak pendapat terbaru lembaga penyiaran publik KAN menunjukkan partai oposisi Israel unggul tipis atas koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menjelang pemilu 27 Oktober. Oposisi mengantongi 52 kursi, sementara koalisi Netanyahu 51 kursi, keduanya belum mencapai 61 kursi yang dibutuhkan di Knesset. Partai Yashar pimpinan Gadi Eisenkot memimpin dengan 23 kursi, disusul Likud dengan 21 kursi.

Oct 05, 2026 - 09:50
Updated: 20 hours ago
0 0
Jelang Pemilu 27 Oktober, Koalisi Netanyahu Tertinggal Tipis dari Blok Oposisi Israel
Jelang Pemilu 27 Oktober, Koalisi Netanyahu Tertinggal Tipis dari Blok Oposisi Israel

Jajak pendapat terbaru menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober mendatang menunjukkan partai-partai oposisi berhasil unggul tipis atas koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Survei yang digelar lembaga penyiaran publik KAN mencatat blok oposisi mengamankan 52 kursi, sedangkan koalisi pendukung Netanyahu hanya meraih 51 kursi.

Meski demikian, perolehan kedua kubu tersebut masih jauh dari ambang batas 61 kursi yang diperlukan untuk menguasai Knesset. Kondisi ini membuat peta politik Israel menjelang pemilu semakin ketat dan belum ada pihak yang benar-benar dominan.

Dari sisi partai, Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot tetap mempertahankan posisi teratas dengan proyeksi 23 kursi. Partai Likud yang dinakhodai Netanyahu menyusul di urutan kedua dengan 21 kursi.

Sementara itu, Partai Beyahad di bawah komando Naftali Bennett berpeluang meraih 12 kursi. Partai Demokrat yang dipimpin Yair Golan diprediksi mengantongi delapan kursi, jumlah yang sama dengan perkiraan raihan Jewish Power.

Adapun Partai Zionisme Religius-Zehut yang dipimpin Bezalel Smotrich diperkirakan mendapatkan enam kursi dalam pemilu kali ini.

Survei ini muncul bersamaan dengan keputusan Komite Pemilihan Pusat Israel pada Minggu (4/10) yang mewajibkan Netanyahu membayar denda sebesar 29 ribu shekel atau sekitar Rp170 juta. Denda tersebut dijatuhkan karena Netanyahu dinilai telah menggunakan tentara untuk kepentingan kampanye.

Netanyahu sendiri telah memimpin Israel sejak Desember 2022. Selama menjabat, ia menghadapi sejumlah persoalan hukum, termasuk tuduhan kasus korupsi yang persidangannya masih berlangsung hingga kini.

Selain itu, Netanyahu juga menghadapi surat perintah penangkapan dari Mahkamah Pidana Internasional terkait dugaan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Jalur Gaza, Palestina. Berbagai tekanan hukum dan politik ini menjadi latar belakang yang mewarnai kompetisi menuju pemilu 27 Oktober.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User