Jejak Leluhur Benjamin Netanyahu: Dari Eropa Timur hingga Kubu Yahudi Ashkenazi
Benjamin Netanyahu kembali mencalonkan diri dalam pemilu Israel Oktober mendatang. Ia dikenal sebagai PM Israel pertama yang lahir di negara itu, berbeda dari para pendahulunya yang lahir di Eropa. Garis keturunannya dari kakek dan ayah yang lahir di Eropa Timur menempatkannya dalam kelompok Yahudi Ashkenazi, yang pernah mendominasi politik dan akademisi Israel serta menghadapi ketegangan dengan Yahudi Sephardi dari Timur Tengah.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali mencalonkan diri dalam pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung Oktober mendatang. Jika kembali terpilih, ia berpotensi memperpanjang rekornya sebagai pemimpin dengan masa jabatan terpanjang dalam sejarah Israel. Netanyahu pertama kali menjabat sebagai perdana menteri pada 1996 saat masih berusia muda, menjadikannya salah satu PM termuda dalam sejarah negara tersebut.
Selain catatan masa jabatan, Netanyahu juga menorehkan sejarah sebagai perdana menteri Israel pertama yang lahir di wilayah Israel sendiri. Para pendahulunya rata-rata lahir di Eropa. Latar belakang keluarganya pun mencerminkan kenyataan itu, karena kakek dan ayahnya sama-sama dilahirkan di Eropa.
Kakek dari pihak ayah, Nathan Mileikowsky, lahir di Kreva pada 15 Agustus 1879. Kreva saat itu merupakan bagian dari Kekaisaran Rusia dan kini masuk wilayah Belarus. Sementara ayahnya, Benzion Netanyahu, lahir di Warsawa, Polandia, pada 25 Maret 1910, yang pada masa itu juga termasuk dalam Kekaisaran Rusia. Nama lahir Benzion adalah Benzion Mileikowsky.
Dari garis keturunan tersebut, Netanyahu tergolong dalam kelompok Yahudi Ashkenazi, yakni komunitas Yahudi yang tersebar di Eropa dan memiliki pengaruh besar dalam kehidupan Yahudi global. Pada tahun-tahun awal berdirinya Israel pada 1948, kelompok Ashkenazi menjadi dominan, termasuk dalam pendirian Partai Buruh. Mereka membentuk elit yang sebagian besar berhaluan kiri, menganut pandangan sosialis, dan memiliki visi tentang negara yang kuat serta inklusif.
Dominasi Ashkenazi juga terlihat di posisi-posisi puncak dunia akademis dan hampir di seluruh aspek kehidupan publik Israel. Namun, situasi mulai berubah ketika jutaan orang Yahudi Sephardi dari Timur Tengah tiba di Israel pada 1950-an. Kedatangan gelombang imigran ini memicu benturan budaya yang tajam di negara yang baru berdiri.
Yahudi Eropa memiliki kecenderungan curiga terhadap Yahudi Arab. Yahudi Sephardi yang berimigrasi pada dekade-dekade awal berdirinya Israel menghadapi berbagai tantangan dan perlakuan diskriminatif dari kelompok Ashkenazi. Para pemimpin sekuler Israel saat itu bersikap ambivalen terhadap imigrasi Sephardi. Di satu sisi, mereka mengakui perlunya memperkuat populasi Yahudi di negara baru. Di sisi lain, mereka khawatir kehilangan pijakan karena kedatangan populasi yang sebagian besar religius akan menuntut representasi keagamaan dan mengancam aspirasi politik Zionisme sekuler.
Kelompok Ashkenazi juga dipenuhi rasa superioritas, baik karena berasal dari wilayah Eropa yang maju secara teknologi dan politik maupun karena memegang kendali pemerintahan. Dalam sistem nilai mereka, orang Yahudi Arab dianggap sebagai warga negara kelas dua. Ketegangan ini memuncak dalam bentrokan fisik dan kerusuhan besar yang dipicu isu diskriminasi etnis, yang dikenal sebagai Kerusuhan Wadi Salib pada Juli 1959.
Hingga kini, Yahudi Sephardi masih menghadapi perlakuan diskriminatif dari kelompok Yahudi Ashkenazi. Dinamika historis inilah yang menjadi latar belakang identitas Netanyahu sebagai bagian dari komunitas Ashkenazi, kelompok yang pernah mendominasi panggung politik dan sosial Israel pada masa-masa awal berdirinya negara itu.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)