Ijazah Bung Hatta Dipajang di Kampus Belanda, Ternyata Ayah Prabowo Juga Lulusan Universitas yang Sama

Ijazah Mohammad Hatta saat lulus dari Erasmus University Rotterdam (EUR) Belanda masih dipajang hingga kini di aula gedung bernama Hatta Building. Selain Bung Hatta, Soemitro Djojohadikusumo, ayah Presiden Prabowo Subianto, juga tercatat sebagai lulusan universitas yang sama dan meraih gelar doktor ekonomi pada 1943 di usia 26 tahun.

Oct 10, 2026 - 16:02
Updated: 10 hours ago
0 0
Ijazah Bung Hatta Dipajang di Kampus Belanda, Ternyata Ayah Prabowo Juga Lulusan Universitas yang Sama
Ijazah Bung Hatta Dipajang di Kampus Belanda, Ternyata Ayah Prabowo Juga Lulusan Universitas yang Sama

Kepintaran Mohammad Hatta, Wakil Presiden pertama Indonesia, diakui oleh salah satu universitas terkemuka di Belanda. Salinan ijazahnya saat lulus dari Erasmus University Rotterdam (EUR) bahkan masih dipajang hingga sekarang. Ijazah tersebut dipamerkan di aula sebuah bangunan yang diberi nama Hatta Building, sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan Bung Hatta dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Sebelum bernama EUR, universitas tersebut dikenal sebagai Nederlandse Handelshogeschool. Bung Hatta menempuh pendidikan di Belanda pada periode 1921 hingga 1932. Selama berada di negeri penjajah, ia aktif dalam organisasi Perhimpunan Indonesia dan bahkan dipercaya memimpin organisasi tersebut pada 1926 sampai 1930.

Namun, bukan hanya Bung Hatta yang menorehkan jejak di kampus itu. Soemitro Djojohadikusumo, ayah dari Presiden Prabowo Subianto, juga merupakan lulusan universitas yang sama. Soemitro lahir di Kebumen pada 29 Mei 1917 dan berangkat ke Belanda pada 1935 untuk menempuh studi ekonomi di Nederlandse Economische Hogeschool, Rotterdam.

Dua tahun berselang, Soemitro memperdalam filsafat dan sejarah di Universitas Paris atau yang lebih dikenal sebagai College de Sorbonne (La Sorbonne). Di sana, ia bersentuhan dengan atmosfer pemikiran Eropa yang tengah berubah cepat akibat krisis ekonomi dan ketegangan menjelang perang.

Setelah kembali ke Belanda, Soemitro menulis disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie (Kredit Rakyat di Masa Depresi) di tengah invasi Nazi Jerman pada 1940. Meski situasi sulit, ia berhasil menuntaskan riset tersebut dan meraih gelar doktor ekonomi pada 1943 di usia 26 tahun. Disertasinya kemudian menjadi bacaan penting pada masa pascakemerdekaan karena menyoroti sistem kredit rakyat dan dinamika ekonomi di tengah krisis.

Salah satu dosen Soemitro adalah Profesor Jan Tinbergen, peraih Nobel Ekonomi pertama di dunia. Dari Tinbergen, Soemitro belajar tentang pentingnya kebijakan ekonomi yang terukur, dengan prinsip satu instrumen kebijakan untuk satu tujuan. Prinsip itu kelak menjadi dasar pemikirannya dalam membangun kebijakan ekonomi Indonesia.

Dalam buku Pelaku Berkisah, Ekonomi Indonesia 1950-an Sampai 1990-an, Soemitro mengungkapkan alasan dirinya belajar di Rotterdam. "Dengan pengorbanan yang besar, orang tua saya mengirimkan saya ke Rotterdam untuk belajar di Sekolah Ilmu Ekonomi Belanda (sekarang Erasmus University)," katanya. Ia juga mengaku awalnya tidak tertarik belajar ekonomi, tetapi ingin memahami apa yang terjadi di negerinya dan dunia.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User