Harga Pangan Melonjak, Perencana Keuangan Beberkan Jurus Belanja agar Anggaran Tidak Jebol
Kenaikan harga pangan memaksa rumah tangga mengatur ulang strategi belanja. Perencana keuangan Andy Nugroho dan Aidil Akbar membagikan kiat agar anggaran tidak jebol, mulai dari menyusun skala prioritas, menghindari belanja besar sekaligus, menjauhi FOMO, mencatat pengeluaran, hingga membuat daftar belanja sesuai kebutuhan.
Kenaikan harga bahan pokok membuat rumah tangga harus lebih cermat mengelola pengeluaran, terutama untuk kebutuhan makan sehari-hari. Ketika harga terus menanjak sementara pendapatan tidak bertambah, anggaran belanja pangan berisiko membengkak jika tidak direncanakan dengan baik.
Perencana Keuangan Andy Nugroho menekankan pentingnya menyusun skala prioritas sebelum berbelanja. Menurutnya, pengeluaran wajib seperti cicilan, token listrik, dan biaya SPP anak harus didahulukan. Setelah itu, baru mengatur pengeluaran penting yang masih bisa disesuaikan, seperti makan sehari-hari dan transportasi.
"Seseorang harus memprioritaskan pengeluaran yang bersifat penting dan wajib seperti bayak cicilan, beli token, biaya SPP anak, dan yang lainnya. Kedua, pengeluaran yang penting namun masih bisa di atur pengeluarannya seperti makan sehari-hari dan transportasi," ujar Andy kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (9/10).
Andy juga menyarankan agar dana belanja pangan disisihkan sejak awal. Dengan memisahkan anggaran, pengeluaran untuk makan lebih terkontrol dan tidak mengganggu pos lain seperti cicilan, tagihan listrik, atau biaya pendidikan anak.
Selain itu, membeli bahan pangan dalam jumlah besar tidak selalu menghemat. Andy mengingatkan bahwa pembelian besar berisiko merugikan jika tidak terbiasa memasak, bahan cepat busuk, atau penyimpanan tidak memadai. "Kita membeli bahan makanan dalam jumlah banyak, padahal sebenarnya kita males masak," ujarnya. Membeli karena penasaran mencoba produk juga bisa membuat pengeluaran membengkak.
Andy menyoroti kebiasaan FOMO atau fear of missing out, seperti membeli makanan viral lewat layanan pesan antar dan tergoda promo diskon. Menurutnya, pengeluaran kecil untuk jajan dan pesan antar, apalagi ditambah ongkos kirim, bisa menumpuk dan menggerus anggaran pangan sehari-hari.
Sementara itu, Perencana Keuangan Aidil Akbar menyarankan masyarakat membandingkan harga bahan pangan dengan biaya per porsi, bukan hanya harga jual. Ia mencontohkan tahu, tempe, sayuran, dan telur ayam sebagai pilihan bergizi yang relatif terjangkau. "Untuk memenuhi kebutuhan gizi sebenarnya tidak semahal itu juga, karena ada banyak bahan makanan yang gizinya tinggi namun harganya terjangkau," kata Andy.
Aidil juga mengingatkan pentingnya mencatat seluruh pengeluaran pangan selama 30 hari, termasuk jajan, pesan antar, kopi, dan makan di luar. "Catat seluruh pengeluaran pangan selama 30 hari, termasuk jajan, pesan antar, kopi, dan makan di luar," ujarnya. Hasil evaluasi ini bisa dipakai untuk menetapkan anggaran bulanan yang realistis dan membaginya ke periode mingguan.
Terakhir, membuat daftar belanja sebelum ke pasar atau supermarket membantu berbelanja lebih terarah. Daftar disusun berdasarkan menu harian, persediaan yang masih ada, dan kebutuhan anggota keluarga. Aidil menyarankan anggaran mingguan dengan pembelian bahan segar sesuai kebutuhan agar batas pengeluaran jelas. Namun, ia mengingatkan agar mempertimbangkan biaya transportasi, karena belanja sedikit demi sedikit belum tentu hemat jika ongkos perjalanan bertambah.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)