Eksekusi Mati Dua Kali Gagal, Napi Perempuan di Tennessee Masih Hidup dan Kini Dirawat

Christa Pike, satu-satunya narapidana perempuan di Tennessee yang divonis mati, tetap hidup setelah dua kali disuntik pentobarbital pada 30 September. Eksekusi gagal itu memicu penyelidikan dan mendorong Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Frank Strada, mengundurkan diri. Pike kini dirawat di rumah sakit dengan lengan membengkak dan kulit melepuh.

Oct 09, 2026 - 08:02
Updated: 9 hours ago
0 0
Eksekusi Mati Dua Kali Gagal, Napi Perempuan di Tennessee Masih Hidup dan Kini Dirawat
Eksekusi Mati Dua Kali Gagal, Napi Perempuan di Tennessee Masih Hidup dan Kini Dirawat

Christa Pike, narapidana perempuan di Tennessee, Amerika Serikat, menjadi sorotan setelah eksekusi mati yang dijalankan dua kali gagal mengakhiri hidupnya. Peristiwa yang berlangsung pada 30 September malam itu membuat Pike tetap bernapas meski telah menerima suntikan mematikan, menjadikannya kasus luar biasa dalam sejarah hukuman mati di negara bagian tersebut.

Pike merupakan satu-satunya perempuan yang dijatuhi hukuman mati di Tennessee. Ia dinyatakan bersalah atas pembunuhan teman sekelasnya, Colleen Slemmer (19), pada 1995 di Knoxville. Saat itu Pike berusia 18 tahun dan melakukan aksi kejam tersebut bersama pacarnya, Tadaryl Shipp. Keduanya menyayat korban dengan cutter, mengukir pentagram di dada, dan mengambil sebagian tengkorak Slemmer.

Pada 1996, Pike resmi divonis mati, sementara Shipp dihukum penjara seumur hidup karena dinilai terlalu muda untuk memenuhi syarat hukuman mati di Tennessee. Bertahun-tahun kemudian, tepatnya pada 30 September malam, petugas akhirnya menyuntikkan pentobarbital ke tubuh Pike setelah eksekusi sempat tertunda akibat proses di pengadilan banding federal.

Namun, dosis pertama yang diberikan tidak mampu menghentikan denyut jantung Pike. Petugas kemudian menyuntikkan dosis kedua sesuai protokol, tetapi lagi-lagi Pike tetap bertahan hidup. Pengacaranya menyebut saat itu Pike terdengar menangis, merintih, dan bernapas keras. Wartawan yang hadir di ruang sidang juga melaporkan mendengar suara napas dan dengkuran keras dari Pike.

Setelah dipastikan tidak meninggal, Pike segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Kondisi lengannya dilaporkan membengkak dan kulitnya melepuh menyerupai luka bakar. Hingga kini, kondisi fisik Pike secara menyeluruh belum diketahui secara pasti, meski ada laporan bahwa ia sudah sadar, terbangun dalam keadaan marah dan bingung, serta pada 6 Oktober disebut telah mampu berjalan dengan bantuan di sekitar kamarnya.

Sebelum eksekusi dilakukan, kuasa hukum Pike sempat memohon agar kliennya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat. Permohonan itu didasari kondisi medis Pike yang mengidap trombositosis, yaitu kelainan berupa jumlah trombosit terlalu tinggi dalam darah sehingga berisiko menyebabkan penggumpalan dan penyumbatan pembuluh darah. Tim pengacara telah memperingatkan bahwa gumpalan darah di lokasi suntikan dapat menghalangi zat kimia masuk ke pembuluh darah.

Saat ini, penyelidikan tengah dilakukan untuk mengungkap penyebab Pike lolos dari maut. Peristiwa ini juga berdampak pada jajaran pejabat setempat, dengan Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee, Frank Strada, memilih mengundurkan diri menyusul kegagalan eksekusi tersebut. Belum ada keterangan resmi mengenai apakah Pike akan menghadapi masalah kesehatan jangka panjang akibat insiden itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User