Bukan Hijau Biasanya, Astronom Temukan Bintang Chartreuse Pertama di Bima Sakti
Astronom mengidentifikasi bintang berwarna hijau untuk pertama kalinya. Bintang katai putih bernama WD J1330+6435 di rasi Draco, sekitar 280 tahun cahaya dari Bumi, berubah hijau chartreuse setelah menelan puing planet. Warna unik ini muncul karena atom natrium di permukaannya berubah tingkat energi akibat hantaman atom helium, sehingga menyerap cahaya oranye dan menyisakan pendar hijau kekuningan.
Untuk pertama kalinya, para astronom berhasil mengidentifikasi sebuah bintang yang tampak berwarna hijau. Objek tersebut bukan bintang biasa, melainkan katai putih bernama WD J1330+6435 yang berubah menjadi hijau chartreuse atau hijau kekuningan setelah menelan puing batuan dari planet-planet yang sebelumnya mengorbitnya.
Bintang ini terletak di galaksi Bima Sakti, sekitar 280 tahun cahaya dari Bumi, di wilayah rasi Draco. Temuan tersebut dilaporkan Reuters pada Jumat (16/10) dan menjadi hasil studi yang dipimpin astrofisikawan University of Warwick, Inggris, Mark Hollands, serta diterbitkan di jurnal RAS Techniques and Instruments.
Menurut Hollands, ketertarikan tim bermula dari serpihan material planet yang jatuh ke permukaan katai putih tersebut. Material itu memperkaya lapisan luar bintang dengan sejumlah unsur, termasuk kalsium, litium, dan terutama natrium.
Pada bintang normal, warna ditentukan oleh suhu, mulai dari oranye pada bintang yang lebih dingin hingga biru pucat pada bintang terpanas. Namun, aturan itu tidak berlaku sama untuk katai putih, yakni inti sisa bintang bermassa rendah hingga menengah yang telah kehabisan bahan bakar nuklir dan melepaskan lapisan luarnya.
Hollands menjelaskan, pada bintang normal natrium menyerap satu panjang gelombang oranye yang sangat spesifik, serupa warna khas lampu jalan natrium. Akan tetapi, kepadatan katai putih ini begitu tinggi sehingga atom natrium terus dihantam atom helium dan tingkat energinya berubah.
"Hasil akhirnya, atom natrium tidak lagi menyerap satu panjang gelombang oranye yang sangat sempit; mereka menyerap panjang gelombang kuning, oranye, dan sebagian merah. Yang tersisa adalah bintang dengan pendar hijau kekuningan yang indah, sesuatu yang tidak mungkin terjadi pada bintang mirip Matahari," kata Hollands.
Rekan penulis studi sekaligus astrofisikawan University of Warwick, Boris Gänsicke, menambahkan bahwa katai putih memiliki ukuran sebesar Bumi tetapi sangat padat. Karena itu, sedikit natrium saja sudah cukup untuk menghalangi banyak cahaya oranye.
Dalam penelitian tersebut, tim mempelajari 151 katai putih dalam radius sekitar 65 tahun cahaya dari Bumi. Salah satunya, WD J1011+2845, menunjukkan warna merah muda salmon yang kemungkinan paling merah di antara bintang yang diketahui. Bintang di rasi Leo Minor berjarak 48 tahun cahaya itu diwarnai karbon dari bagian dalamnya.
Warna katai putih terbagi menurut komposisi atmosfernya. Katai putih yang kaya karbon cenderung merah muda atau ungu, sedangkan yang diperkaya puing planet condong ke kuning. Adapun katai putih bersuhu lebih rendah dengan atmosfer campuran hidrogen dan helium cenderung sian atau biru pucat. Secara keseluruhan, warnanya mencakup hampir seluruh spektrum.
"Pada akhirnya, semua ini sangat mirip dengan pencampuran warna di palet seorang pelukis. Mereka memulai dengan beberapa warna dasar, lalu mencampurnya untuk membentuk warna apa pun yang mereka butuhkan untuk lukisan. Ambil sebagian warna yang masuk ke campuran itu, maka hasilnya akan berubah," tutur Gänsicke.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Wow
0
Sad
0
Angry
0
Comments (0)