AS Siap Siarkan Langsung Eksekusi Mati Nidal Hasan, Hukuman Tembak Pertama Sejak 1961

Amerika Serikat berencana menyiarkan langsung eksekusi mati Nidal Hasan, mantan prajurit yang membunuh 13 orang di Fort Hood, Texas, pada 2009. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyatakan eksekusi akan dipublikasikan. Hasan dijadwalkan dieksekusi dengan regu tembak pada 3 Desember, menjadi eksekusi militer pertama sejak 1961.

Oct 09, 2026 - 04:02
Updated: 8 hours ago
0 0
AS Siap Siarkan Langsung Eksekusi Mati Nidal Hasan, Hukuman Tembak Pertama Sejak 1961
AS Siap Siarkan Langsung Eksekusi Mati Nidal Hasan, Hukuman Tembak Pertama Sejak 1961

Pemerintah Amerika Serikat berencana menayangkan secara langsung eksekusi mati Nidal Hasan, mantan prajurit yang bertanggung jawab atas penembakan di Fort Hood, Texas, pada 2009. Penembakan itu menewaskan 13 orang dan melukai puluhan lainnya. Rencana siaran langsung ini disampaikan oleh seorang pejabat Pentagon kepada Reuters pada Kamis (8/10).

Menteri Pertahanan Pete Hegseth dalam program Human Events Daily yang disiarkan Kamis mengatakan bahwa ia berniat mempublikasikan eksekusi Hasan. Meski demikian, Hegseth tidak merinci bentuk pelaksanaan eksekusi tersebut. "Kami akan memastikan bahwa orang-orang dapat menontonnya, bahwa itu bersifat publik. Karena orang-orang perlu memahami bahwa ... ada konsekuensi serius untuk hal-hal seperti ini," ujar Hegseth.

Nidal Hasan dijadwalkan menjalani hukuman mati pada 3 Desember mendatang. Ia divonis hukuman mati oleh juri militer pada Agustus 2013 setelah dinyatakan bersalah atas 13 dakwaan pembunuhan berencana dan 32 dakwaan percobaan pembunuhan berencana. Dalam aksinya, Hasan melepaskan tembakan dengan pistol yang dilengkapi laser di fasilitas medis pangkalan militer AS di Texas.

Motif serangan tersebut adalah penolakan Hasan terhadap pengerahan militer AS ke Irak dan Afghanistan. Pria yang mengadopsi paham radikal itu mengklaim ingin melindungi umat Muslim dan kelompok Taliban di Afghanistan. Berdasarkan hukum militer AS, eksekusi mati terhadap tentara aktif memerlukan persetujuan langsung dari presiden. Setelah melalui proses banding yang panjang, Presiden Donald Trump menandatangani persetujuan eksekusi Hasan atas rekomendasi Hegseth.

Hasan akan dieksekusi dengan metode regu tembak. Ini akan menjadi eksekusi militer pertama sejak 1961 dan eksekusi mati pertama yang dilakukan regu tembak militer sejak 1945, menurut Kelompok Aksi Hukuman Mati. Hukuman mati tembak merupakan salah satu bentuk eksekusi yang baru-baru ini ditambahkan oleh pemerintahan Trump ke dalam daftar metode yang diizinkan untuk kejahatan federal terberat, bersama dengan hukuman mati dengan listrik dan mati lemas dengan gas.

Perluasan opsi eksekusi federal tersebut sebagian disebabkan oleh meningkatnya kesulitan memperoleh obat-obatan untuk suntikan mematikan. Metode suntikan mematikan juga terkadang terbukti sulit dilakukan. Pekan lalu, rencana negara bagian Tennessee untuk mengeksekusi seorang wanita untuk pertama kalinya dalam lebih dari 200 tahun gagal ketika petugas penjara salah langkah dalam memberikan suntikan mematikan.

Narapidana bernama Christa Pike berakhir selamat tetapi harus dirawat di rumah sakit. Pengacaranya mengatakan bahwa Pike terbangun dalam keadaan "marah dan bingung" di rumah sakit. Kondisinya saat ini cukup parah, dengan kedua lengan mengalami pembengkakan, melepuh, dan terluka bak luka bakar akibat proses eksekusi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User